BI: Rupiah Makin Tak Sensitif Terhadap Harga Minyak

BI: Rupiah Makin Tak Sensitif Terhadap Harga Minyak

- detikFinance
Selasa, 08 Jan 2008 13:54 WIB
Jakarta - Dulu, setiap harga minyak melonjak, nilai tukar rupiah pasti merosot. Tapi kini, nilai tukar rupiah semakin tak sensitif atas pergerakan harga minyak dunia.

Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melejit hingga lebih dari 50% di tahun 2007, nilai tukar rupiah justru menguat atas dolar AS hingga 0,29%.

"Nilai tukar rupiah semakin menurun sensitivitasnya terhadap pergerakan harga minyak dunia," ujar Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Selasa (8/1/2008).

Burhanuddin menjelaskan, rupiah selama semester I-2007 mengalami apresiasi hingga 1,8%. Namun pada semester kedua, nilai tukar rupiah melemah hingga 1,1% akibat timbulnya krisis subprime mortgage di AS dan juga lonjakan harga minyak dunia.

"Dengan demikian, untuk keseluruhan 2007, nilai tukar rupiah tercatat Rp 9.140 per dolar AS atau terapresiasi 0,29% dibanding 2006 yang sebesar Rp 9.167 per dolar AS," jelas Burhanuddin.

Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom mengatakan, salah satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap sensitivitas rupiah adalah sumber permintaan terhadap valas yang cukup besar berasal dari Pertamina.

"Kenaikan harga minyak menyebabkan Pertamina membutuhkan valas yang lebih besar dari sebelumnya, tapi itu sudah jauh lebih baik di-manage sehingga dampak tekanannya terhadap pasar berkurang," tuturnya.
Β 
Peningkatan valas ini kelihatan dari total yang mereka beli dari pasar di 2007 lebih besar dari 2006, dan juga kami melihat adanya sedikit penurunan dari permintaan dolarnya karena volume impor minyak juga berkurang.

Cadangan Devisa

Hingga akhir 2007, BI mencatat cadangan devisa Indonesia US$ 56,9 miliar atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Perbaikan kinerja ekspor cukup signifikan yang berdampak positif pada kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI).

"NPI justru mencatat surplus ditengah berbagai gejolak serta melemahnya perekonomian di negara-negara industri maju sepanjang tahun 2007," ujarnya.

Peningkatan ekspor disebabkan oleh perubahan pasar ekspor regional di ASEAN dan Asia pada umumnya. Antara lain dengan adanya diversifikasi pasar komoditas ekspor Indonesia ke China dan India dari sebelumnya yang telah terfokus ke negara maju.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads