Investor asing terlihat melakukan aksi jual hingga lebih dari Rp 700 miliar dari biasanya net selling sebesar Rp 100 miliar.
Pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (16/1/2008) IHSG meluncur hingga lebih 100 poin yakni 149,836 poin (5,49%) ke posisi 2.580,195.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perdagangan sesi I yang didominasi aksi jual mencatat transaksi sebanyak 43.426 kali, dengan volume 1,785 miliar unit saham, senilai Rp 4,435 triliun. Hanya 8 saham yang naik harga. Selebihnya 203 saham turun dan 16 saham stagnan.
Saham-saham yang terjun harganya di top losser didominasi saham tambang, perbankan, perkebunan dan telekomunikasi antara lain, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 2.650 menjadi Rp 30.500, Timah (TINS) turun Rp 1.900 menjadi Rp 28.750, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.850 menjadi Rp 26.150, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun 1.150 menjadi Rp 13.050, International Nickel Indonesia (INCO) turun Rp 700 menjadi Rp 9.350, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 425 menjadi Rp 3.975, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 450 menjadi Rp 5.650, Telkom (TLKM) turun Rp 450 menjadi Rp 8.850 dan Bank Mandiri (BMRI) turun 225 menjadi Rp 2.975.
Pengamat saham Edwin Sinaga mengatakan, kepanikan yang melanda bursa karena sejak tahun lalu IHSG memang menggelembung besar disaat ekonomi global sebenarnya sedang labil.
"Dulu harga minyak meroket dibilang jangan panik, ekonomi AS melemah tidak berdampak tapi kini ketika tempe pun susah dicari orang baru sadar kenaikan harga komoditas ternyata merugikan ekonomi Indonesia," kata Edwin dalam perbincangannya dengan detikFinance, Rabu (16/1/2008).
Saat ini kata Edwin, pelaku pasar mulai sadar krisis ekonomi di AS cukup hebat. Kenaikan harga komoditas yang gila-gilaan seperti minyak dan sektor perkebunan justru berbalik arah menyerang perekonomian Indonesia.
"Ini yang demo baru karena akibat kenaikan harga kedelai, belum lagi pengaruh dari kenaikan-kenaikan yang lain," katanya.
Tapi Edwin menilai penurunan hebat IHSG ini hanya bersifat sementara karena sejumlah saham unggulan seperti sektor telekomunikasi justru masih punya potensi naik.
(ir/qom)











































