Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono di sela-sela Festival Ekonomi Syariah di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (15/1/2008).
"Harusnya nilai tukar rupiah menguat, karena fundamental yang baik, sekarang itu rupiah tidak menguat seperti yang kita perkirakan, oleh karena itu kita masuk ke pasar," ujarnya.
Pelemahan rupiah terjadi karena banyaknya permintaan valas dari pertamina dan PLN. Dan BI berusaha memenuhi permintaan valas itu.
BI akan siap masuk ke pasar karena menurut Hartadi, BI menginginkan rupiah yang kuat karena faktor fundamental ekonomi RI sudah kuat.
Hal ini tercermin dari balance of payment, current account, dan capital account yang masih surplus.
"Pasar modal masih banyak yang beli dari asing, harusnya rupiah cenderung menguat. Tapi karena permintaan di pasar terlalu besar, jadi kita akan coba masuk ke pasar valas. Jadi policy intention-nya untuk memperkuat rupiah, itu stands BI seperti itu," paparnya. (ddn/qom)











































