Volatilitas saham masih tinggi karena pelaku pasar global masih menantikan data-data ekonomi AS dan hasil rapat the Fed pada akhir Januari ini.
"Sampai pekan depan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih kritis dan saham-saham masih volatil," kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono dalam perbincangannya dengan detikFinance, Kamis (17/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini yang bisa dilakukan pelaku pasar adalah tahan saham yang ada untuk jangka panjang atau melakukan trading. Dan buat pemula bukan waktu yang tepat masuk karena pasar sedang bergejolak," ujar Purwoko.
Selain faktor global, pasar juga mencemaskan kondisi inflasi dalam negeri karena tren kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.
Pada penutupan sesi I, Kamis (17/1/2008), IHSG kembali anjlok 17,580 poin (0,68%) ke posisi 2.574,731.
Perdagangan sesi I mencatat transaksi sebanyak 31.301 kali, dengan volume 1,754 miliar unit saham, senilai Rp 2,869 triliun. Sebanyak 63 saham naik, 105 saham turun dan 51 saham stagnan.
Saham-saham yang masih tergolek lemas di top losser antara lain, Astra Internasional (ASII) turun Rp 950 menjadi Rp 25.300, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 500 menjadi Rp 29.850, Timah (TINS) turun Rp 400 menjadi Rp 28.600, PP London Sumatra (LSIP) turun Rp 200 menjadi Rp 12.800, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 100 menjadi Rp 12.800 dan Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 25 menjadi Rp 3.875.
Bursa regional juga masih tak berdaya seperti bursa Australia turun 0,25%, Hang Seng turun 0,38%, Kosdaq turun 0,78%, Seoul turun 0,2%, Shanghai turun 2,7%, STI Singapura turun 0,99% dan Taiwan turun 2,01%.
(ir/qom)











































