Pada perdagangan Rabu (23/1/2008), rupiah dibuka menguat tajam pada level 9.400/9.410 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.475 per dolar AS.
Penurunan suku bunga itu berhasil meredam gejolak di pasar saham sekaligus membuat posisi dolar AS tertekan. Setelah pengumuman itu, dolar AS langsung melemah atas euro, namun menguat atas yen.
Pada perdagangan kemarin di New York, euro menguat ke level 1,4628 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,4455 dolar. Euro sebelumnya sempat melemah hingga 1,4365 dolar menyusul kejatuhan bursa saham Eropa hingga mencatat penurunan terburuk sejak tragedi 9/11.
Namun dolar AS berhasil menguat atas yen ke posisi 106,45 dibandingkan sebelumnya di level 105,97.
Menurut analis, penurunan suku bunga AS itu memang membantu meredakan kecemasan investor atas resesi AS yang telah merontokkan bursa saham. Namun penurunan suku bunga itu telah menurunkan imbal hasil investasi dalam dolar AS.
Penurunan dolar AS juga kemungkinan masih akan berlanjut karena The Fed diperkirakan masih akan mengambil langkah penurunan suku bunga lanjutan.
"Snagat memungkinkan bahwa kita akan kembali ke level suku bunga 1% karena masalah perekonomian yang dihadapi AS saat ini lebih berat dibandingkan dengan masalah yang dihadapi saat bubble teknologi di tahun 2001," ujar Kathy Lien, chief currency strategist Forex Capital Markets seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































