Anjlok Pasar Hanya Pemanasan

Anjlok Pasar Hanya Pemanasan

- detikFinance
Kamis, 24 Jan 2008 14:23 WIB
Jakarta - Pasar keuangan dunia yang sempat anjlok pada perdagangan hari Selasa 22 Januari lalu hanyalah pemanasan dari 'krisis' yang sesungguhnya yakni resesi AS. Pemerintah harus siap-siap menyiapkan langkah antisipasi.

Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi dari International Center for Applied Finance and Economics (Inter CAFE) Iman Sugema dalam jumpa pers di Kantor Econit, Jalan Tebet Barat Dalam IV No 5, Jakarta, Kamis (24/1/2008).

"Ini baru pemanasan, baru near recession, kalau sudah kejadian, maka pasar finansial akan gonjang-ganjing, dari kita harus siap menghadapi hal itu," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Iman, AS kini mirip negara emerging market saat terkena krisis pada tahun 1997-1998. Indikator yang terlihat antara lain, rendahnya angka tabungan (low saving), capital inflow yang banyak untuk menopang konsumsi dan bukannya menopang investasi.

"Ada kelemahan struktural di AS yakni sektor householdnya dicederai oleh tidak prudentnya perbankan. Di bidang properti dan kartu kredit juga," ujarnya.

Perlambatan ekonomi di AS terjadi karena harga aset di AS yang mengalami penurunan tajam sejak tahun 2005.

"Krisis di AS akan dalam dan berkepanjangan bukan hanya 2008, tapi 2009 dan 2010, memang tidak sesulit ketika krisis melanda negara berkembang, karena AS tidak didikte oleh Bank Dunia dan IMF," ujarnya.

AS memiliki hubungan dagang dengan China, Jepang, Uni Eropa dan negara-negara bekas konfederasi Rusia, sementara hubungan dagang Indonesia dengan AS memang sedikit yakni sekitar 12 persen.

"Jika AS krisis, maka Cina, Jepang dan Uni Eropa akan kena, dan imbasnya akan kena ke kita, karena kita punya hubungan dagang dengan negara yang bergantung kepada AS, walaupun kita yang terakhir kena," ujarnya.

Pengamat lain Ichsanuddin Noorsy menambahkan resesi di AS sebenarnya sudah diingatkan beberapa kalangan sejak tahun 2001 jauh sejak kejadian 9/11. Yakni saat Gubernur The Fed saat itu Alan Greenspan pada 21 Juli 2001 mengingatkan masalah yang menimpa ekonomi AS.

Ada sedikitnya 5 masalah, yakni social insurance, public housing, upah dan pendapatan yang menurun, asuransi kesehatan, dan pemotongan pajak sejak zaman Bill Clinton dan di George W Bush.

Kemudian diperkuat lagi tahun 2004 oleh ekonomi peraih Nobel Joseph Eugene Stiglitz. "Stiglitz yang pada Desember 2004 datang ke Indonesia saat itu mengatakan ekonomi dunia resesi," ujarnya.

Tahun 2006 Stiglitz kembali menyatakan ekonomi dunia sudah mengalami malaise atau kelesuan ekonomi.

"Kenapa hal ini dibaca salah oleh sejumlah otoritas fiskal dan moneter," ujarnya.
(ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads