Penguatan nilai tukar didukung oleh kondisi fundamental yang masih kondusif. Tahun ini BI memperkirakan nilai tukar akan berada di kisaran 9.000-9.300 per dolar AS.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta, Senin (4/2/2008).
"Kondisi fundamental yang kondusif tercermin pada perkiaraan Neraca Pembayaran Indonesia yang masih surplus meski surplus tidak sebesar sebelumnya, cadangan devisa yang memadai dan imbal hasil rupiah yang menarik," paparnya.
Di samping itu, papar Burhanuddin, berbagai kebijakan pemerintah untuk menjaga kesinambungan fiskal diharapkan mampu menjaga persepsi risiko para pelaku pasar.
Untuk cadangan devisa hingga akhir tahun akan berkisar antara US$ 70 miliar atau setara dengan 6,2 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Mengenai perlambatan ekonomi global, pengaruhnya tterhadap ekonomi RI menurut Burhanudin akan melemahkan ekonomi. Pertumbuhan RI akan berada di kisaran 6,2-6,8 persen.
Kenaikan harga komoditas akan mendorong pemerintah untuk mengalokasikan belanja pada subsidi yang lebih besar, di tengah penurunan lifting minyak bumi yang diperkirakan menjadi 910.000 barel per hari, penambahan belanja itu akan menyebabkan kurangnya belanja pemerintah di sektor belanja pegawai, barang dan modal.
Penurunan belanja di sektor ini akan menyebabkan stimulus pemerintah ke ekonomi yakni konsumsi dan investasi pemerintah berkurang.
(ddn/qom)











































