Demikian disampaikan Direktur Keuangan INCO, Indra Ginting, saat dihubungi detikFinance, Senin (4/2/2008).
"Berdasarkan hasil studi independen, secara ekonomis dinyatakan bahwa pembangunan pabrik di Bahodopi tidak layak meskipun secara teknis sesuai untuk pengolahan
feronikel," ungkap Ginting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, dalam kontrak karya tersebut kita juga memiliki opsi substitusi lokasi. Berdasarkan opsi tersebut, perseroan telah mengadakan pertemuan dengan departemen ESDM dan mengajukan opsi substitusi lokasi ke Sorowako, Sulawesi Selatan," jelas Ginting.
Hasil pembicaraan tersebut juga memutuskan bahwa hasil bijih nikel dari Bahodopi akan dicampur dengan bijih nikel dari Sorowako, untuk kemudian diolah di pabrik pengolahan pyrometallurgical yang saat ini sudah ada di Sorowako.
"Namun perseroan tetap akan melanjutkan kegiatan eksplorasi di Bahodopi dan melanjutkan penelitian disana untuk kemungkinan membangun pabrik pengolahan di masa mendatang," ujar Ginting.
Mengenai rencana pembangunan pabrik di Sorowako, INCO akan melakukan studi kelayakan di sana.
"Mengenai nilai investasinya, saat ini kita sedang melakukan penghitungan. Sementara targetnya, pabrik pengolahan yang akan dibangun di Sorowako, diharapkan mampu menghasilkan 48,5 juta pon nikel, atau setara dengan 22.000 ton nikel," jelas Ginting.
Sementara mengenai produksi nikel tahun 2007, INCO menyatakan telah memproduksi sekitar 169 juta pon, atau setara dengan 76.675 ton nikel.
"Angka tersebut melampaui target perseroan yang sebesar 165 juta pon (74.843 ton nikel)," ujar Ginting. (ndr/ir)











































