Kedua perusahaan itu akan membuat perusahaan patungan untuk pengangkutan batubara di Sumatera Selatan. Keduanya akan berbagi pendanaan untuk perusahaan patungan yang diharapkan rampung Juli 2008 itu.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama KAI Ronny Wahyudi ketika ditemui di kantor Menneg BUMN, Gedung Garuda, Jakarta, Selasa (5/2/2008).
"Untuk Joint Venture Company ini, kebutuhan pendanaannya dibagi porsinya, untuk KAI 70 persen dan PTBA 30 persen," jelasnya.
Direktur Keuangan PT KA Achmad Kuntjoro Hadiwidjojo mengatakan pihaknya akan menyetorkan pendanaan modal 70 persen untuk perusahaan patungan tersebut dalam bentuk aset-asetnya seperti gerbong dan lokomotif.
"Tapi setoran dari PTBA bentuknya tunai, kebutuhan dana tunainya itu sekitar Rp 4,2 triliun, dan PTBA menyetorkan modalnya sebesar Rp 1,4 triliun, jadi Rp 2,8 triliun itu nanti akan kita setorkan dalam bentuk aset itu," tuturnya.
Untuk memperoleh dana sebesar Rp 2,8 triliun tersebut, PT KA mendapatkan dana tersebut dari pinjaman bank dan penerbitan obligasi.
"Untuk obligasi rencananya kita akan terbitkan Rp 500 miliar pada semester I-2008, dan Rp 500 miliar lagi pada semester II-2008, sisanya kami akan ambil dari pinjaman bank," katanya.
Dirut PTBA Sukrisno sebelumnya mengatakan, PTBA menargetkan penjualan batubara hingga 50 juta ton pada 2015. Terkait target itu, masalah transportasi harus dirampungkan.
Salah satu terobosan yang dilakukan PTBA adalah dengan membentuk perusahaan patungandengan PTKA untuk pembangunan rel kereta api pengangkut batubara dengan kapasitas 15 juta ton. Diharapkan triwulan kedua 2008 JVC bisa terbentuk dan proyek senilai Rp 3-4 triliun bisa selesai 2010.
(dnl/qom)











































