Direktur Administrasi dan Keuangan Elnusa Hendri S Suardi menjelaskan dari kebutuhan ekspansi itu sekitar 70 persen dari pihak luar dan 30 persen internal. Dana dari pihak luar opsinya adalah obligasi atau pinjaman bank sebesar US$ 90-100 juta.
"Saat ini masih dikaji, mana yang akan digunakan. Hasilnya mungkin awal kuartal ketiga. Atau mungkin juga kombinasi keduanya. Yang bank loan untuk modal kerja, yang obligasi untuk jangka panjang," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan pendanaan 30 persen sisanya berasal dari IPO dan internal. Dana sebesar itu akan digunakan untuk membeli peralatan dan ekspansi ke Asia Tenggara.
Beberapa alat yang akan dibeli antara lain alat-alat seismik onshore sekitar US$ 40-50 juta, dua rig onshore untuk proyek di Kalimantan dan Jawa senilai US$ 30-35 juta.
Sementara untuk ekspansi ke Asia Tenggara yang paling dekat adalah ke Brunei. Dirut Elnusa Eteng A Salam menyatakan, Elnusa baru saja memenangkan kontrak senilai US$ 15,2 juta.
Laba Bersih
Elnusa menargetkan laba bersih 2008 melonjak 80-90 persen dibanding tahun lalu. Jika pada 2007 laba bersihnya sekitar Rp 110 miliar (unaudited), maka tahun ini Elnusa berharap bisa mencapai Rp 200 miliar.
"Target ini memang signifikan, tapi kita optimis target ini bisa tercapai karena beberapa investasi tahun lalu yang dampaknya dirasakan tahun ini," kata Eteng.
Sementara pendapatan tahun ini ditargetkan Rp 2,2 triliun atau naik 8-10 persen dari tahun lalu yang Rp 2 triliun.
Selain itu, Elnusa juga mematok produksi rata-rata blok Ramba sebesar 4.200 barel oil per day (bopd). Lebih rendah dari produksi akhir tahun lalu yang 4.500 bopd. "Tapi itu based case, angka konservatif. Kemungkinan bisa lebih dari itu," katanya.
Elnusa juga akan melakukan sekitar delapan sumur di blok yang di take over-nya dari ConocoPhilips itu.
(lih/ir)











































