Menurut Divisi indeks Standard & Poor's, nilai yang hilang dari pasar saham di seluruh dunia itu terjadi karena pasar saham di negara berkembang anjlok hingga 12,44% dan pasar negara berkembang anjlok 7,83%.
Pasar saham mencatat kejatuhan yang paling dalam ---bahkan terburuk sejak peristiwa terorisme 9/11--- pada 21 Januari lalu. Semua bermuara dari krisis subprime di AS yang dikhawatirkan akan menjungkalkan negara adidaya itu ke jurang resesi. Jika itu terwujud, perekonomian dunia bisa terancam.
"Jika investor berpikir bahwa pasar dapat bangkit pada, maka peristiwa pada Januari itu membawa mereka kembali ke realitas," ujar S&P seperti dikutip dari AFP, Senin (11/2/2008).
Dalam catatan S&P, sebanyak 50 dari 52 pasar saham global mengakhiri bulan Januari pada posisi negatif, dengan 25 diantaranya mencatat kerugian hingga dua kali lipat. Sementara 26 dari pasar saham negara berkembang mencatat posisi negatif, dengan 16 pasar saham anjlok lebih dari 10%.
Beberapa bursa utama dunia yang mengalami kejatuhan terbesar selama Januari antara lain Paris anjlok hingga 12,27%, London anjlok 8,85%, Tokyo anjlok 4,47%, AS anjlok 6,07%, Jerman anjlok 12,72%. (qom/ir)











































