Berdasarkan laporan Bank of America, kerugian akibat krisis subprime AS di pasar modal seluruh dunia jika dihitung sejak Oktober 2007 telah mencapai US$ 7,7 triliun. Standard & Poor's sebelumnya juga merilis angka kerugian hingga US$ 5,2 triliun, namun khusus untuk selama Januari 2008 saja.
"Krisis yang menyebar hingga di luar AS ke bank-bank dan berbagai sektor di seluruh dunia adalah salah satu yang paling buruk dalam sejarah pasar finansial," ujar chief market strategis Bank of America, Joseph Quinlan seperti dikutip dari AFP, Jumat (15/2/2008).
Ia menambahkan, laporan kerugian tersebut lebih buruk dalam berbagai krisis dalam beberapa dekade terakhir termasuk peristiwa 'Black Monday' di Wall Street pada tahun 1987, krisis mata uang Brasil tahun 1999 dan kolapsnya Long Term Capital Management (LTCM) di tahun 1998.
Analisis dari bank tersebut menunjukkan bahwa episode terbaru yang berhubungan dengan subprime atau KPR berisiko tinggi kepada orang dengan catatan kredit yang buruk telah menyebabkan kapitalisasi pasar dunia turun hingga 14,7% dalam tiga bulan sejak Oktober 2007.
Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan penurunan 13,2% yang dicetak saat krisis LTCM, penurunan 9,8% saat 'Black Monday' dan 6,1% penurunan saat krisis mata uang Brasil.
Kerugian itu juga lebih besar dibandingkan saat peristiwa serangan terorisme 11 September 2001, krisis finansial Asia tahun 1997 dan gagal bayar Argentina tahun 2001 serta krisis mata uang Meksiko tahun 1994.
"Memerlukan waktu beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun sebelum Wall Street dan bursa lainnya untuk bisa mengatasi biaya yang sebenarnya akibat krisis subprime di AS dan meluasnya krisis kredit di seluruh dunia," ujar Quinlan.
(qom/ir)











































