Pada perdagangan Jumat (15/2/2008), rupiah ditutup menguat signifikan di level 9.160 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya di level 9.210 per dolar AS.
"Pasar itu sudah terbiasa, saya lihat di media itu terlalu dihubung-hubungkan. Saya juga yakin karyawan maupun dewan gubernur BI profesional, mereka bisa bekerja maksimal kendati ada masalah di tubuh institusi itu. Buktinya rupiah menguat," ujar Pengamat pasar Uang Farial Anwar dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Jumat (15/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gubernur BI yang dulu Syahril Sabirin bahkan sampai masuk sel, itu juga tidak berdampak ke kinerja dan rupiah," ujarnya.
Menurut Farial, faktor utama penguatan rupiah ini karena ekspektasi pelaku pasar uang yang melihat Bank Sentral AS (Federal Reserve) akan kembali menurunkan suku bunganya 25 sampai 50 basis poin. Langkah itu ditujukan untuk menyelamatkan AS dari resesi.
"Perekonomian suatu negara yang negatif, akan negatif pula nilai mata uangnya. Jadi dolar akan terus underpressure," ujarnya.
"Satu mata uang cenderung melemah apabila ada rumor suku bunganya turun. Pasar bergerak menjual mata uang tersebut karena rumor bisa menjadi kenyatan," tambahnya.
Mengenai kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi 'BB', menurutnya hal itu juga tak terlalu berpengaruh dengan pergerakan rupiah.
"Jangan terlampau percaya dengan rating. Rating bisa benar atau tidak. Ada juga rating yang ngaco," ungkapnya.
(arn/qom)











































