Antisipasi Penurunan Tarif, Telkom Genjot Pangsa Pasar

Antisipasi Penurunan Tarif, Telkom Genjot Pangsa Pasar

- detikFinance
Selasa, 19 Feb 2008 12:46 WIB
Jakarta - Penurunan tarif interkoneksi yang akan diberlakukan pemerintah 1 April 2008 sudah mulai diantisipasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Perusahaan pelat merah ini akan menggenjot pangsa pasar demi menutupi penurunan tarif.

Telkom sendiri memandang skema baru formulasi tarif interkoneksi yang akan diberlakukan pemerintah sudah menuju ke arah yang benar.

"Pada prinsipnya, Telkom menyambut baik keputusan ini meskipun tentunya kami juga akan mencermatinya secara lebih mendalam," kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia dalam laporannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/2/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eddy menjelaskan, biaya interkoneksi untuk jaringan tetap lokal (fixed wireline) dan jaringan tetap lokal tanpa kabel (fixed wireless) pada umumnya mengalami penurunan.

Dalam kasus interkoneksi untuk panggilan dari telepon tetap ke telepon tetap (fixed to fixed atau F2F) serta dari telepon tetap ke telepon mobile (fixed to mobile atau F2M) sebenarnya juga terjadi penurunan bila perbandingan dilakukan secara obyektif dengan mengenyampingkan angka adjustment, atau benar-benar mengacu pada hitungan berdasarkan biaya sesungguhnya (cost-based).

Sebagai contoh, pada panggilan lokal tarif interkoneksi F2F yang berdasarkan perhitungan cost based tahun lalu adalah Rp 157 turun pada tahun ini menjadi Rp 137, walaupun untuk implementasinya baik tahun lalu dan sekarang berlaku tetap Rp 73 per menit.

Demikian juga tarif M2F terminasi lokal yang berdasarkan perhitungan cost based 2007 adalah Rp 268 per menit, maka pada implementasi 2008 menjadi Rp 203 per menit atau turun 24%. Bahwa pada 2007 Telkom mengenakan tarif Rp 73 per menit untuk F2F, dan Rp 152 per menit untuk M2F.

Menurut Eddy, semata-mata kebijakan yang diambil pemerintah yang waktu itu melakukan upaya penyeimbangan untuk melindungi kepentingan pengguna telepon tetap dari kalangan masyarakat bawah. Dengan tindakan penyeimbangan (balancing) tersebut, posisi Telkom sendiri sebenarnya menjadi dilematis namun tetap patuh karena menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Eddy Kurnia mengingatkan bahwa keputusan yang diambil pemerintah adalah keputusan di level interkoneksi dengan tujuan untuk dijadikan referensi dalam penetapan tarif ritel oleh para operator. Bahwa keputusan penurunan tarif interkoneksi akan mendorong terjadinya penurunan tarif ritel, menurut Eddy, memang itu yang diharapkan pemerintah dan tentunya juga oleh masyarakat.

"Sebagai operator, kami akan melakukan kalkulasi ulang terhadap tarif retail layanan kami namun tentang berapanya tentu masih terlalu dini untuk disampaikan saat ini karena harus dilakukan pengkajian yang seksama terlebih dulu," lanjutnya.

Eddy mengakui, skema baru tarif interkoneksi akan mendorong tarif telepon semakin murah. Telkom sendiri akan menyikapi secara positif dengan memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas basis pelanggan serta meningkatkan volume trafik penggunaan layanannya.

Langkah-langkah Telkom dalam mengantisipasi penurunan tarif interkoneksi akan sejalan dengan program perusahaan yang sudah dipersiapkan sejak pertengahan 2007, yaitu mempercepat pembangunan infrastruktur Telkom Group dalam memperluas pangsa pasar (market share).

Market share Flexi pada akhir 2007 sekitar 55% pada akhir 2008 ditargetkan menjadi minimal 60%-65% dengan mempercepat pembangunan BTS minimal 3.000 BTS tahun ini.

Untuk broadband access Speedy, pencapaian yang di tahun 2007 sekitar 240.000 pelanggan akan ditambah minimal 1,2 juta satuan sambungan layanan (SSL).

Demikian pula, market share untuk corporate customer akan ditingkatkan dari sebelumnya mencapai 47% menjadi minimal 50% pada 2008, antara lain dengan melakukan akuisisi Sigma sebesar 80% sebagai perusahaan yang mempunyai bisnis utama IT Service, korporasi dan perbankan yang akan tuntas Februari ini.

Di segmen seluler, Telkom akan menambah dan mempercepat pembangunan BTS Telkomsel minimal 5.000 BTS sehingga market share bisnis seluler akan tetap dikuasai Telkom.

"Upaya-upaya di atas, ditargetkan untuk meningkatkan pertumbuhan TELKOM tetap sinifikan pada 2008," pungkas Eddy.

(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads