"Target IPO, semula dilaksanakan Maret. Tapi kita sekarang lihat kondisi market. Kita tidak ingin menjual saham pada saat market kurang bagus," kata Direktur Utama Bank Jabar-Banten Agus Ruswendi.
Hal itu diungkapkan Agus disela-sela acara MoU penjualan ORI dengan Bank Danamon, di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta, Selasa (19/2/2008).
Â
Agus mengakui pihaknya sudah melakukan mini ekspose di BI. Jumlah saham yang akan dijual 20% sehingga setelah IPO pemegang saham yang existing 80 persen dan investor baru 20%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
Meski belum bisa memastikan jadwal listing, Agus mengaku setiap hari pihaknya selalu memantau perkembangan di pasar. "IPO itu kan bergantung market, day to day kita perhatikan market-nya seperti apa. Saya lihat dulu, belum yakin," ungkap Agus.
Â
IPO Bank Jabar ditangani oleh dua penjamin emisi yakni PT CIMB-GK Securities Indonesia dan Indopremier Securities. Dana hasil IPO akan digunakan untuk penambahan jaringan, infrastruktur, teknologi, modal kerja, dan penguatan SDM. "50%-nya kita gunakan untuk modal kerja, sisanya yang lain-lain," ujar Agus.
Â
Tahun ini Bank Jabar ikut mendanai sejumlah proyek infrastruktur seperti tol Depok-Antasari, Cikampek-Palimanan, lalu Becakayu (Bekasi, Cawang, Kampung Melayu), Cirebon-Kanci-Pejagan. "Yang sudah di-signing Rp 825 miliar. Ada empat proyek itu," kata Agus.
Pemegang saham Bank Jabar saat ini adalah 2 provinsi yakni Jawa Barat dan Banten, serta 31 Kabupaten atau Kota untuk wilayah Jabar dan Banten. "Kalau Jabar punya 48%. Sisanya provinsi Banten dan Kabupaten Kota," katanya.
Dalam tiga tahun terakhir Bank Jabar mendapat suntikan modal rata-rata Rp 200 miliar per tahun dari pemegang saham.
 (ir/qom)











































