Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Selasa (19/2/2008) rupiah menguat 1 poin ke posisi 9.155 per dolar AS.
Penguatan rupiah mengikuti pasar saham dan suksesnya lelang obligasi negara seri zero coupon. Â
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya kita bersyukur bahwa sentimen-sentimen regional masih positif, kita ikut merasakan masuknya aliran dana kembali baik membeli SUN, SBI dan itu salah satu faktor penguatan rupiah. Demikian juga dengan masih tingginya minat pemilik dana untuk investasi di paper-paper baik obligasi maupun saham di negara berkembang termasuk Indonesia, yang dianggap cukup aman, konsisten dan cukup memberikan yield yg secara real masih lebih baik setelah dihitung-hitung dengan berbagai risiko dibanding negara lainnya," papar Miranda.
Hal itu diungkapkan Miranda disela-sela acara seminar bertema prospek ekonomi Asia Pasifik 2008 di kantor CSIS, Jalan Tanah Abang 3, Jakarta, Selasa (19/2/2008). Â
Â
Ditanya apakah dana yang mengalir ke pasar ini akan bertahan lama, Miranda mengaku perlu ada terobosan untuk bisa membuat dana itu betah.
"Kalau dana itu masih ada di pasar modal atau di paper seperti SUN dan SBI dia bisa keluar setiap saat, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana banyak attractive opportunities di sini sehingga dana-dana tersebut di-convert menjadi investasi di proyek sektor riil dan susah untuk pergi keluar lagi," kata Miranda. "Tapi kita adalah bagian dari ekonomi dunia dalam kenyataannya. Selama Indonesia dianggap masih menarik kita akan mengalami inflows tetapi seperti pernah kita alami beberapa bulan lalu saat dimana ada guncangan di dunia karena likuiditas di pasar AS sangat kering, itu bisa dengan segera keluar. Jadi pertanyaan anda apakah akan merupakan sesuatu yang jangka panjang, ya kita harapkan inflows-nya jangka panjang, dan kita harapkan makin lama ditanam di sektor riil," tutur Miranda. (ir/qom)











































