Obligasi Semen Gresik Tunggu Bunga The Fed Stabil

Obligasi Semen Gresik Tunggu Bunga The Fed Stabil

- detikFinance
Minggu, 24 Feb 2008 10:30 WIB
Bogor - PT Semen Gresik (persero) Tbk masih mengkaji waktu yang tepat untuk melakukan global bond. Perseroan menunggu suku bunga The Fed stabil sebagai waktu yang tepat untuk menerbitkan oblgasi global.

Demikian disampaikan oleh Direktur Keuangan PT Semen Gresik (persero) Tbk Cholil Hasan, Bogor (23/2/2008).

"Kalau kita masih bisa tunggu ternyata The Fed bisa turun 50 basis poin, ini kan masalah timing itu penting. Lebih untung menunggu," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia yakin kalau suku bunga The Fed sekarang ini belum sampai ke titik stabil karena akan masih ada peluang untuk turun terus. "Walaupun harapan pasar itu 2,5 %, tapi tahun 2001, pernah mencapai 1,75 % bahkan 1,5% berarti pernah kan. Sampai itu stabil," tanya Cholil.

Namun katanya, semakin rendahnya suku bunga The Fed justru akan memulihkan kondisi AS, sehingga akan ada peluang menaikan kembali suku bunga terutama pada periode tahun depan. "Jadi intinya semua aspek masih kita pertimbangkan, termasuk election, currency, credit rating, timing, format, covenant dan lain-lain," serunya.

Menurut Cholil, selain belum bisa memastikan waktu yang tepat, pihaknya juga belum menentukan instrumen yang akan dipakai. Apakah pinjaman (loan) bank atau obligasi.
 
"Sekarang kita masih mempertimbangkan semua pilihan untuk masuk tahun ini atau tidak, karena kebutuhan kita tahun depan. Tapi kalau kita ambil sekarang kita harus pikirkan penempatannya, semua faktor termasuk timing kita pertimbangkan," katanya.

Ia mencontohkan keputusan untuk masuk ke valas bisa saja beresiko, misalnya akan ada peluang selisih kurs pada tahun ini dan tahun depan pada saat penggunaannya. "Kalau kita beli sekarang sedangkan kebutuhannya tahun 2009. Terutama kalau kita beli valas paling bisa dapat 3% atau 4%, nah kalau rupiah itu 6%. Kalau seperti ini kita alami kerugian bunga dari dana yang menganggur," paparnya.

"Sedangkan revenue kita 95% rupiah, kalau pinjam valas kursnya bisa fluktuatif yang berpengaruh pada bunga. Ini faktor yang dipertimbangkan," tambahnya.

Ditanya mengenai kemungkinan melakukan dua instrumen bersamaan, Cholil mengatakan bahwa hal ini harus dilihat dari waktu yang tepat. "Kita  masih nunggu timing. Pada waktu masuk pasar mana yang paling mungkin," ucapnya.

Tetapi menurutnya pilihan obligasi bisa jadi lebih rendah secara biaya dibandingkan dengan pinjaman valas. Biaya karena menurutnya bunga atau kuponnya bisa lebih rendah dari pinjaman valas.

"Obligasi global belum diputuskan. Kalau laporan keuangan tahun 2007 sudah keluar kita harus putuskan. Laporannya keluar akhir Maret. Kalau biaya audit itu lebih murah dari pada cost kita masuk sekarang," katanya.

Ia mengatakan peluang masuk ke obligasi adalah sebelum April, terkait adanya aturan ketentuan batas maksimal dari diumumkannya laporan keuangan semen Gresik, yang jatuh setelah beberapa hari pengumuman laporan keuangan. (hen/lih)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads