Demikian disampaikan oleh Direktur Keuangan PT Semen Gresik (persero) Tbk Cholil Hasan, Bogor (23/2/2008).
Menurut Cholil, kebutuhan US$ 200 juta itu masih bisa dipenuhi dari keuangan internal tahun ini yang mencapai US$ 300 juta. Sementara untuk belanja modal atau capital expenditure (capex), Semen Gresik tahun ini mengalokasikan Rp 500 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semen Gresik berencana menambah investasinya secara bertahap sampai 2012 di bidang fisik dan non fisik hingga US$ 1,6 miliar. Setelah menyisihkan seperdelapan pada tahun ini, atau sekitar US$ 200 juta, pada 2009 dan 2010 akan dialokasikan masing-masing 40% dari sisa investasi.
Artinya pada saat itu kebutuhan valas Semen Gresik bisa mencapai US$ 600 juta sampai US$ 700 juta per tahunnya. Untuk memenuhi kebutuhan valas itu, ada pemikiran untuk melakukan pinjaman di pasar valas.
"Kalau kita pinjam di pasar valas minimal US$ 300 juta supaya laku diberi pinjaman," kiranya.
Namun dengan adanya perhitungan kondisi pasar kedepan, peluang masuk valas atau obligasi akan memungkinkan pada tahun ini, meski hal belum ada keputusan dari Semen Gresik.
"Pemerintah sudah mengingatkan soal mengambil keputusan yang terbaik yang untuk dipilih, larangan itu penting terutama bagi BUMN yang telah go public," ujarnya.
Selain itu juga semen Gresik mempertimbangkan aspek penyehatan keuangan internal. "Semen Gresik tidak ada pinjaman (net cash). Duit kita banyak tapi tidak sehat karena cost effective capital-nya 14,8%, ini mahal. Kalau tidak melakukan pinjaman cost effective capital akan semakin tinggi. Kalau pinjamnya valas akan menyebabkan menekan cost of debt maka cost effective capital akan turun," harapnya. (hen/lih)










































