Hal tersebut disampaikan pengamat valuta asing Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Rabu (27/2/2008).
"Selama ini kan rupiah anomali, pada saat mata uang asing lain menguat terhadap dolar AS, rupiah melemah, tapi sekarang rupiah sudah berada pada pada jalan yang benar, saat mata uang asing menguat terhadap dolar, rupiah ikut menguat," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Farial menilai ada keanehan dalam nilai tukar rupiah, rupiah tidak seiring seirama dengan pergerakan mata uang lainnya terhadap dolar AS. Saat mata uang asing lain menguat terhadap dolar AS, rupiah malah tidak menguat, bahkan melemah.
Pelemahan dolar AS kali ini terjadi karena pelaku pasar melihat adanya potensi resesi yang berat di AS, dan kecenderungan harga ritel yang meningkat menimbulkan ekspektasi inflasi yang besar. Potensi itu menimbulkan ekspektasi bakal diturunkannya kembali suku bunga AS.
"Jadi ada dilematis ada penurunan suku bunga dengan kenaikan inflasi, kalau suku bunga tidak diturunkan maka problem subprime ini kapan selesai-selesainya," ujarnya.
Akibatnya, investor mulai mengalihkan pundinya ke portfolio investasi yang lebih memberikan keuntungan lebih seperti mata uang di kawasan negara emerging market seperti Selandia Baru dan Indonesia.
Perbedaan suku bunga yang lebar antara The Fed dan BI Rate juga memberikan keyakinan bagi pelaku pasarnya untuk menyimpan dananya di mata uang rupiah.
(ddn/ddn)











































