"Kalau dolar AS turun ke 9.000 maka kenaikan harga minyak bisa dikompensasi. Oleh karena itu BI jangan menahan penguatan dolar biarkan nilai tukar nergerak wajar," kata pengamat pasar valas Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Rabu (27/2/2008).
Menurutnya, Bank Indonesia harus merelakan rupiah terus menguat di bawah level 9.000 per dolar. Karena jika nilai tukar rupiah menguat maka pengeluaran beli BBM pun berkurang dari sisi kurs. Penguatan rupiah tidak akan terlalu memberatkan bagi para eksportir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang diuntungkan itu eksportir saja, Biarkanlah bergerak di bawah 9.000 per dolar, jangan memikirkan eksportir terus, eksportir selama ini sudah kenyang dengan pelemahan rupiah," ujarnya.
Farial tidak sependapat jika pemerintah harus menaikkan harga BBM karena adanya tekanan harga minyak mentah.
"Kalau dinaikin lagi betul-betul keterlaluan karena rakyat semakin hari semakin menderita," tegasnya.
Alih-alih menaikkan harga BBM untuk menghemat pengeluaran subsidi, pemerintah sebaiknya melakukan penghematan di pos anggaran pegawai rutin, seperti penghematan untuk biaya perjalanan dinas ke luar negeri pejabat.
"Yang perlu dihemat itu anggaran rutin, jalan-jalan ke luar negeri itu yang harus dihemat," ujarnya.
(ddn/ir)











































