Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Jumat (29/2/2008) rupiah menguat 14 poin ke posisi 9.056 per dolar AS.
Pelaku pasar memanfaatkan memontum pelemahan dolar AS dengan mengalihkan investasinya ke emerging market.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mata uang regional kebanyakan menguat terhadap dolar AS seperti, dolar Hongkong menguat 0,01%, yen Jepang menguat 0,83%, dolar Selandia Baru menguat 0,2%, dan dolar Singapura menguat 0,14%,
Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan penguatan rupiah terimbas dari penguatan mata uang regional.
"Hal yang terjadi secara region dan ini juga yang berlaku ke ekonomi di emerging market kan semua beberapa curency juga mengalami penguatan terhadap dolar," katanya.
BI sendiri berharap penguatan rupiah ini tidak semata faktor eksternal tapi juga kondisi makro ekonomi dalam negeri.
"Penguatan rupiah itu hal yang bagus, sedangkan perekonomian kita menghadapi tekanan inflasi, inflasi sebagian datang dari imported inflation. Pada saat rupiah menguat imported inflation impact-nya terhadap inflasi itu tentu tidak sebesar kalau rupiahnya melemah," katanya.
Justru lanjut Budi, saat rupiah melemah menjadi tekanan terhadap inflasi karena ekspektasi inflasi melemah. "Sekarang kita berharap penguatan rupiah berlangsung cukup dalam waktu yang cukup panjang," ujarnya.
Yang pasti kata Budi, peran BI tetap menjaga volatilitas agar rupiah terkendali. "Kalau tidak in the cost of competitiveness economy, jadi kami BI itu mencoba balance, terhadap bagaimana menjaga stabilitas rupiah, tetapi kita juga dalam bentuk volatilitas tetapi kita
juga memperhitungkan, dampaknya kepada competitiveness economy," katanya.
BI juga akan terus siaga di pasar untuk menjaga kestabilan rupiah. "Sebab kestabilan rupiah penting dan itu kita merasa harus kita lakukan itu," cetusnya. (ir/qom)











































