Pasar saham dilanda kepanikan terkait situasi pasar saham AS kian tak menentu yang ditandai jatuhnya Dow Jones hingga 315,79 point (2,5%) ke posisi 12.266,39 pada akhir pekan lalu (29/2/2008), karena turunnya dolar AS yang telah memicu kenaikan harga minyak ke US$ 103 per barel.
Pencapaian inflasi Februari 2008 sebesar 0,65% yang lebih baik dibanding Januari 2008 sebesar 1,77% tidak mampu mengusir kecemasan pelaku pasar, yang takut masa kenaikan harga saham segera memudar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indeks LQ-45 turun 17,425 poin (2,95%) ke posisi 573,347 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 14,894 poin (2,93%) ke level 494,051.
Hampir semua bursa regional terpangkas seperti Hang Seng turun 3,07%, Kosdaq turun 1,74%, Nikkei turun 4,49%, Australia turun 2,89%, STI Singapura turun 3,33%.
Perdagangan sesi siang mencatat transaksi sebanyak 54.886 kali, dengan volume 3,055 miliar unit saham, senilai Rp 5,099 triliun. Sebanyak 22 saham naik, 187 saham turun dan 40 saham turun.
Saham-saham yang merosot harganya di top losser antara lain, Astra Internasional (ASII) turun Rp 700 menjadi Rp 27.150, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 450 menjadi Rp 13.350, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 400 menjadi Rp 7.250, Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 9.450, Timah (TINS) turun Rp 350 menjadi Rp 32.200, Tambang Batubara Bukt Asam (PTBA) turun Rp 300 menjadi Rp 11.150 dan Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 125 menjadi Rp 3.975.
Sedangkan saham-saham yang masih mencetak kenaikan harga di top gainer antara lain, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 500 menjadi Rp 32.100, Jasa Marga (JSMR) naik Rp 10 menjadi Rp 1.680 dan AKR Corporindo (AKRA) naik Rp 10 menjadi Rp 1.330.
(ir/qom)











































