Demikian terungkap dalam paparan PGN ketika rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (3/3/32008) malam.
"Dengan pembangunan LNG Receiving Terminal ini, akan membantu memasok gas untuk wilayah tersebut, sehingga defisit gasnya dapat berkurang," kata Dirut PGN Sutikno.
Berdasarkan neraca gas, saat ini Jawa Barat memang tengah defisit pasokan gas. Permintaan gas sektor industri mencapai 1112 mmscfd, sementara suplai hanya 550 mmscfd.
Sementara di Jawa Timur permintaan gas industri mencapai 403 mmscfd saat ini padahal supply hanya 170 mmscfd dan akan habis pada 2014.
Sedangkan di Medan permintaan industri naik tajam jadi 169 mmscfd pada 2007 dan diperkirakan naik lagi pada 2010 jadi 250 mmscfd. Padahal supply hanya 12 mmscfd dan akan habis di 2011.
Untuk itu, PGN berencana membangun LNG Receiving Terminal di Jabar dengan kapasitas 3 mtpa (matrik ton per annum). Investasinya mencapai US$ 574 juta.
Terminal serupa juga akan dibangin di Sumut dengan kapasitas 1,5 mtpa yang investasinya sampai US$ 446 juta. Sedangkan di Jabar rencananya dibangun terminal senilai US$ 650 juta berkapasitas 3 mtpa.
Sementara untuk meningkatkan kehandalan jaringan pipa distribusi di Jatim membutuhkan investasi US$ 72 juta dan di Sumut US$ 40 juta.
Total investasi yang dibutuhkan mencapai US$ 1,782 juta. Sumber pendanaan akan berasal dari internal PGN dan pinjaman luar negeri.
"Kami sudah menghitung, ada keuntungan untuk kami," tambahnya.
(lih/qom)











































