Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Selasa (4/3/2008) rupiah menguat 30 poin ke posisi 9.075 per dolar AS.
Rupiah bagi investor dinilai masih memiliki daya tarik karena Indonesia relatif lebih memiliki kepastian dibanding negara lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Jadi, menurut Miranda, penguatan nilai tukar kembali disebabkan karena adanya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia.
"Minggu lalu kan kita lihat kenaikan kepemilikan asing untuk membeli SUN, SBI dan saham," ujarnya.
Hal senada dituturkan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto. Menurut Rahmat kepemilikan investor asing di Surat Utang Negara (SUN) sudah mencapai Rp 83,48 triliun. Angka ini hampir sama pada bulan Mei 2007 yaitu sesaat sebelum krisis subprime melanda di AS.
"Penguatan rupiah dan rate differential antara BI Rate dan The Fed rate merupakan daya tarik," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Selasa (4/3/2008).
Miranda menambahkan Bank Indonesia tetap akan memperhatikan situasi pasar mengingat kondisi eksternal yang sedang mengalami keguncangan.
"Faktor eksternal berpengaruh sangat besar terhadap persepsi, tapi secara umum seperti yang kami sampaikan tadi kami memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 9.100," ujarnya.
Penguatan rupiah di satu sisi juga mengkompensasi kenaikan harga bahan makanan di luar negeri. "Adanya penguatan rupiah bisa mengkompensasi supaya harga di dalam negeri bahan makanan tidak sebesar kenaikkan harga di luar negeri. Oleh sebab itu kami juga mementingkan rupiah yang semakin stabil dan mengarah kepada penguatan," ujarnya. (ddn/ir)











































