"Dana tersebut untuk menyediakan 3 helikopter tipe EC155B1 yang sesuai kondisi dan standar operasi minyak di laut Natuna," ujar Presiden Direktur IATA, Hartono Tanoesoedibjo, usai penandatanganan sindikasi pinjaman di gedung Arthaloka, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (12/3/2008).
Pinjaman US$ 31 juta tersebut diperoleh dari Bank Syariah Mandiri US$ 3 juta, Bank Muamalat US$ 1 juta, Al Ijarah US$ 1 juta, Bank Permata Syariah US$ 10 juta, Asian Finance Bank US$ 7 juta dan ILIC US$ 9 juta.
Penyediaan 3 helikopter tersebut dalam rangka kerjasama IATA dengan West Natuna Consorsium (WNC). WNC yang terdiri dari Conoco Philips, Premier Oil dan Star Energy, menyewa 3 helikopter IATA selama 5 tahun dengan nilai US$ 50 juta.
"Penyewaan 3 helikopter itu untuk keperluan transportasi dari lokasi pengeboran minyak ke darat," ujar Hartono.
Sementara itu, terkait rencana ekspansi di jalur transportasi udara, IATA berencana menambah 6 buah armada lagi di tahun 2008 ini.
"Selain 3 helikopter untuk kerjasama dengan WNC, kita berencana menambah 3 helikopter dan 3 pesawat jenis ATR tahun ini," ujar Hartono.
Namun Hartono belum dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai rencana tersebut. Sebelum pergantian direksi IATA beberapa waktu yang lalu, IATA berencana memiliki 25 unit pesawat hingga 2011.
"Rencana itu kini sedang kita kaji kembali. Alasannya adalah karena izin untuk menjadi perusahaan angkut udara reguler belum kita peroleh dari departemen perhubungan," papar Hartono. (dro/qom)











































