Menurut Deputi Gubernur BI Budi Mulya, pelemahan rupiah itu terjadi karena perekonomian Indonesia sangat terintegrasi dengan perekonomian di negara-negara lain.
"Ada kejadian di suatu tempat punya dampak ke tempat lain. Apa yang terjadi di AS berdampak diseluruh ekonomi emerging market," jelas Budi usai rapat dengan panitia anggaran di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/3/2008).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi karena disaat dolar AS anjlok, investor akan mencari aset dalam bentuk dolar seperti US Treasury dan juga komoditas seperti minyak dan emas.
"Sehingga aset di lokal currency dilepas, dikembalikan. Sehingga demand for dolar di beberapa ekonomi meningkat. Di Indonesia juga begitu. Pelemahan (rupiah) karena ada shifting atau risk aversion dari aset ekonomi di emerging market balik sementara ke US trasury emas, oil," jelas Budi.
Pada hari ini, dolar AS merosot tajam terutama atas euro dan yen. Euro mencapai puncak di level 1,58 dolar. Sementara dolar AS juga terpuruk hingga di level psikologis 100 yen, atau tepatnya di 96,57 yen. Level tersebut merupakan yang terendah sejak September 1995.
Sementara nilai tukar rupiah sempat merosot hingga level 9.330 per dolar AS, seiring anjloknya IHSG hingga lebih dari 100 poin. Namun pada sesi siang ini, rupiah sudah menguat lagi ke level 9.300 per dolar AS.
(qom/ir)











































