"Tahun ini kita menargetkan pembiayaan sebesar Rp 400 miliar, tumbuh 100% dari tahun 2007," ujar Direktur Utama IBF, Ibrahim Atje, dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Selasa (18/3/2008).
Pada tahun 2007, IBF membukukan pembiayaan sebesar Rp 200 miliar, tumbuh 67% dari posisi di 2006. Tahun ini, IBF masih akan fokus di pembiayaan alat berat.
"Kita belum berencana merambah pembiayaan kendaraan bermotor," ujar Ibrahim.
Mengenai sumber pendanaan, IBF menggunakan kas internal dan pinjaman dari beberapa bank antara lain: Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, BII, dan Bank Sinarmas.
"Kita belum dapat menyebutkan porsi pinjamannya. Tapi karena konsumen IBF rata-rata perusahaan pertambangan yang melakukan pembayaran dalam dolar AS, sehingga kita juga akan mencari pinjaman dalam dolar AS," ulas Ibrahim.
Saat ini pembiayaan IBF masih fokus pada konsumen kendaraan berat yang didistribusikan oleh INTA, selaku induk perusahaan.
"Secara porsi, pembiayaan kita baru mencakup 20% pasar alat berat Intraco. Tahun ini kita menargetkan bisa meningkatkan jadi 30%," tutur Ibrahim.
INTA merupakan distributor alat-alat berat merek Volvo, Renault, Bobcat, Berco, dan Ingersoll Land.
(dro/qom)











































