Demikian disampaikan Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono, usai jumpa pers mengenai pertemuan SEACEN di gedung BI, Jl MH Thamrin, Jakarta, Jumat (21/3/2008).
"Kenaikan harga minyak menimbulkan ketakutan akan tingginya inflasi, sehingga untuk negara subsidi minyak seperti Indonesia akan membuat berbagai hitungan baru dalam APBN. Ini berpengaruh pada nilai tukar rupiah," ulas Hartadi.
Namun di sisi lain, ia melanjutkan, kenaikan harga minyak dunia saat ini, juga memberikan pemasukan devisa dari migas.
"Kenaikan harga minyak akan meningkatkan devisa dari ekspor migas. Sayang target lifting tidak bisa ditingkatkan sesuai rencana. Namun, pemasukan devisa dari migas masih lumayan, walau hanya US$ 100-200 juta," ujar Hartadi.
Menurut Hartadi, hal tersebut menjadi faktor yang menyebabkan mengapa pelemahan rupiah tidak sebesar pelemahan mata uang dolar AS.
"Karena migas masih dimonopoli pemerintah. Jadi pemasukan devisa dari migas tersebut disimpan di BI, sehingga pelemahan nilai tukar rupih tidak sebesar dolar," jelas Hartadi.
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk meredam imported inflation, sebagai dampak dari tingginya harga komoditi dunia, adalah dengan menjual (recycling) cadangan devisa untuk mejaga nilai tukar rupiah.
"Meredam inflasi yang disebabkan oleh imported inflation bisa dengan cara menjaga nilai tukar rupiah. Salah satunya dengan recycling cadangan devisa, sehingga bisa mengadsorb rupiah," pungkasnya.
(dro/qom)











































