"Kebutuhan batubara untuk 10 power plant kita nanti sekitar 3,5 juta ton per tahun. Kita sudah sign kontrak jangka panjang dengan beberapa perusahaan batubara lokal seperti Adaro, Bukit Asam dan beberapa lainnya," ujar Direktur Utama SMGR, Dwi Soetjipto kepada detikFinance, usai jumpa pers di hotel Gren Melia, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (24/3/2008).
Kontrak tersebut berjangka waktu antara 10-30 tahun. Namun ia belum dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai rincian data dan nilai kontraknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
10 pembangkit listrik tersebut, rencananya dibangun untuk memenuhi kebutuhan energi pabrik milik SMGR.
"Karena PLN tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan kita, jadi kita harus menyediakan kekurangan energi tersebut," ujar Corporate Secretary SMGR, Saifuddin Zuhri.
Nilai investasi pembangunan pembangkit listrik tersebut US$ 573 juta. Power plant berupa PLTU tersebut akan dibangun di sekitar lokasi pabrik-pabrik SMGR di Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
"Setelah power plant beroperasi di 2011, komposisi penggunaan energi dari PLN akan menjadi sekitar 20-30%, dan sisanya dari power plant kita," ujar Saifuddin.
Selain pembangunan pembangkit listrik, SMGR juga berencana membangun 2 pabrik baru senilai US$ 670 juta. Pendanaannya 30% dari equity dan sisanya outsourcing.
"Untuk tahap awal kita akan gunakan kas internal. Namun kita sedang menjajaki pinjaman bank dan global bond," ungkap Dwi.
(dro/ddn)











































