Demikian disampaikan Dirut PT Kimia Farma Tbk Sjamsul Arifin disela jumpa pers di Mario's Place Cafe, Cikini, Jakarta, Rabu (2/3/2008).
"Anak usaha kita, Kimia Farma Health Care tidak besar. Ini merupakan perusahaan yang membantu manajemen kesehatan. Karena tidak semua orang mendapat jaminan kesehatan. Ada yang pasca bayar, ataupun pra bayar," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk yang pra bayar, Sjamsul menyebutnya mirip tabungan dan asuransi. Dalam keadaan sehat, pelanggannya membayar sejumlah uang per bulan. Dan jika pelanggannya sakit, biayanya akan dipotong dari tabungannya itu.
"Bedanya dengan asuransi, uangnya gak hilang dalam jangka waktu tertentu. Bahkan kalau ternyata tabungannya kurang, kita talangin dulu," katanya.
Ia menjelaskan, anak usaha barunya ini memanfaatkan jaringan apotik dan klinik yang sudah dimiliki Kimia Farma selama ini. Dan tinggal membentuk sebuah sistem pelayanan kesehatannya saja.
Anak usaha ini sudah dibentuk awal tahun ini tapi baru diuji coba di beberapa daerah seperti Bali dan Batam. Ia memprediksi, kontribusi ke kpnsolidasi perusahaan belum akan terasa pada tahun ini. Tapi dampaknya akan terasa pada apotik dan klinik-kliniknya.
"Kita optimistis, karena ini usaha kesehatan masa depan," katanya.
Cari Dana
PT Kimia Farma Tbk berencana mencari dana sebesar Rp 300-400 miliar untuk mengembangkan bisnisnya kimianya. Rencananya dana itu akan digunakan untuk membangun pabrik bahan baku atau bahan pembantu obat.
"Kimia Farma itu kan sebenarnya ada dua, Kimia dan Farma. Tapi selama ini yang dikenal hanya Farmasinya saja. Makanya kita mau kembangkan Kimianya, termasuk farmasi hulunya," katanya.
Awalnya pencarian dana direncakan semester satu tahun ini. Tapi melihat kondisi pasar saat ini yang dinilai tidak terlalu bagus, Kimia Farma pun memilih untuk menunggu kondisi pasar membaik sampai semester dua 2008.
Sebenarnya ada beberapa opsi yang mungkin dilakukan, yaitu rights issue, penjualan aset, ataupun obligasi. Namun semua opsi itu harus mendapat persetujuan pemerintah.
"Kalau obligasi sekarang, biayanya tinggi. Sementara kalau rights issue, bagaimana harganya dengan kondisi sekarang?" keluhnya.
Sebenarnya Kimia Farma sudah memiliki beberapa pabrik bahan baku obat, namun masih skala yang tidak besar. Dan untuk menambah kapasitasnya, rencananya akan dibangun pabrik obat di luar Jawa.
"Kenapa kita pilih luar Jawa, karena resource based-nya disana. Tapi kita belum bisa katakan lokasi tepatnya," lanjutnya.
Ia mengakui, sekitar 98% kebutuhan bahan baku obat Kimia Farma saat ini masih tergantung dari impor. Karenanya ia ingin membangun pabrik sendiri untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Β (lih/ir)











































