"Kita sedang mencari lahan-lahan batubara yang masih hijau di Kalimantan untuk diakuisisi, dalam arti belum diolah maksimal, untuk memenuhi demand yang terus meningkat," ujar Presiden Direktur Adaro, Boy Garibaldi Thohir, di Senayan, Jakarta, Rabu (2/4/2008).
Boy menjelaskan tambang-tambang yang akan diakuisisi harus memiliki cadangan minimum 50 juta ton. "Tujuannya agar pengolahannya bisa dimaksimalkan secara ekonomis," ulas Boy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara kapasitas kita sekarang maksimal 40-45 juta ton per tahun," ungkap Boy.
Namun Boy menyatakan untuk menghadapi perubahan penggunaan energi industri ke batubara dalam beberapa tahun ke depan, kapasitas tersebut tidak mencukupi.
"Meningkatnya harga minyak telah mendorong industri beralih dari minyak ke batubara, yaitu dengan membangun power plant yang bahan bakarnya batubara," papar Boy.
Salah satu perusahaan yang sedang membangun proyek power plant dalam jumlah besar adalah PT Semen Gresik Tbk (SMGR). Beberapa waktu yang lalu, Direktur Utama SMGR, Dwi Soetjipto menyatakan sedang menjajaki kerjasama penyediaan batubara dengan Adaro.
"Memang kerjasama dengan SMGR sedang kita jajaki. Namun dengan kapasitas kita yang sekarang, permintaan itu belum dapat bisa kita suplai. Oleh karena itu kita sedang melakukan upaya peningkatan kapasitas batubara untuk keperluan tersebut," ulas Boy.
Sumber pendanaan akuisisi rencananya akan menggunakan hasil perolehan IPO pada September mendatang yang ditargetkan sebesar US$ 500 juta.
"Dana untuk akuisisi kira-kira US$ 150 juta," ungkap Boy.
Β
(dro/qom)











































