BI Rate Stabil, Rupiah Menguat

BI Rate Stabil, Rupiah Menguat

- detikFinance
Kamis, 03 Apr 2008 17:28 WIB
Jakarta - Keputusan BI yang menetapkan BI Rate 8% mampu meredam pelemahan rupiah. Mata uang lokal ini mulai mencari keseimbangan baru di level 9.200 per dolar AS demi menahan tekanan inflasi.

Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Kamis (3/4/2008) rupiah menguat 15 poin ke posisi 9.200 per dolar AS. Posisi rupiah berlawanan dengan IHSG yang justru meluncur hebat 104 poin ke posisi terendahnya di 2008.

Sementara mata uang regional pada Kamis sore ini ditutup melemah terhadap dolar AS seperti dolar Australia melemah 0,03%, dolar Hongkong melemah 0,07%, rupee India melemah 0,23%, won Korea melemah 0,18%, peso Filipina melemah 0,24%, dolar Singapura melemah 0,56% dan Nikkei Jepang melemah 0,45%.      

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deputi Gubernur Senior BI, Miranda Swaray Goeltom mengatakan BI akan terus menjaga nilai tukar rupiah di posisi yang stabil. "Mengenai berapa levelnya mau nanya 500 kali juga enggak akan saya jawab. Masalahnya bukan bawa-bawaan tapi kita akan terus memperhatikan pergerakan nilai tukar supaya tetap terjaga stabil," tutur Miranda dalam jumpa pers usai rapat dewan gubernur (RDG), Jakarta, Kamis (3/4/2008).BI mencatat selama triwulan I-2008 rupiah bergerak stabil. Dalam periode itu rupiah juga mampu menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi akibat meningkatnya harga komoditas internasional.

Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan I-2008 tercatat sebesar 9.258 per dolar AS. Nilai tukar ini ditopang oleh kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap surplus, seiring dengan tingginya harga komoditas internasional. Cadangan devisa pada triwulan I-2008 juga meningkat menjadi US$ 59 miliar.

BI melihat tekanan inflasi ke depan masih cukup tinggi dan didominasi oleh tekanan dari sisi biaya terutama akibat tingginya harga komoditas internasional atau imported inflation.

Berkaitan dengan itu, menurut Miranda, BI senantiasa mengelola ekspektasi inflasi masyarakat diantaranya dengan menjaga agar tidak terjadi kelebihan likuiditas di pasar uang. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads