Menkeu Heran IHSG Turun Drastis

Menkeu Heran IHSG Turun Drastis

- detikFinance
Kamis, 03 Apr 2008 18:27 WIB
Menkeu Heran IHSG Turun Drastis
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani merasa heran dengan turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) secara drastis hingga 100 poin lebih. Apa karena fundamental atau persepsi?

"Hari ini harga saham turun pada level 4,45 persen, ini yang menjadi perhatian pemerintah karena kemarin juga turun," ujar Sri Mulyani usai rapat dengan BI dan Menko Perekonomian di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (3/4/2008).

Menkeu sendiri tidak kenapa pasar saham bisa merosot sebegitu tajam karena dari sisi fundamental ekonomi, Indonesia masih bagus.
Β 
"Perkembangan kondisi market yang terjadi belakangan ini menjadi pertimbangan pemerintah. Kita perlu lihat apa yang harus menjadi respon apakah ini karena kebijakan atau karena isu yang sfatnya fundamental. Jadi ada sentimen saya tidak tahu apakah sifatnya fundamental atau karena persepsi," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan kondisi seperti itu, digelar konsultasi antara pemerintah dalam hal ini Menko Perekonomian, Menteri Keuangan dan BI yang diwakili oleh Deputi Gubernur Senior Miranda S Goeltom.

Menkeu menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih kuat, namun memang faktor inflasi perlu diwaspadai.

"Saya ingin sampaikan kondisi ekonomi kita masih sehat, dan cukup memberikan konfirmasi bahwa indikator-indikator yang masih harus diwaspadai tetap ada seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi, itu secara umum menentukan kinerja ekonomi," ujarnya

Menkeu pun membeberkan keyakinannya bahwa ekonomi masih bagus dari sisi aktivitas ekonomi yang dicerminkan dengan penerimaan pajak pada Maret 2008 yang memperlihatkan angka yang cukup bagus, total penerimaan Rp 113,6 triliun.

"Kalau dilihat dari periode sama tahun lalu Rp 84 triliun itu meningkat 35,2 persen," ujarnya.

Jika dirinci lagi penerimaan PPh Rp 68,9 triliun naik dibandingkan periode sama tahu lalu sebesar Rp 53,7 triliun. PPN tercatat sebesar Rp 45,8 triliun (bersih dari restitusi) dibanding tahun lalu sebesar Rp 29,8 triliun.

"Ini menggambarkan aktivitas ekonomi menunjukkan momentum yang kuat, tapi memang kondisi saat ini tidak biasa harga minyak terus naik. Demikian juga harga pangan dan 2 faktor ini akan memberikan elemen risiko terhadap aktivitas ekonomi ke depan," ujarnya. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads