Inflasi Masih Tekan Rupiah

Inflasi Masih Tekan Rupiah

- detikFinance
Minggu, 06 Apr 2008 15:28 WIB
Jakarta - Inflasi yang tinggi masih akan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah pada perdagangan pekan depan. Volatilitas yang tinggi akan menekan rupiah pada level Rp 9.170 hingga Rp 9.240 per dolar AS.

Hal tersebut disampaikan pengamat valuta asing Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Minggu (6/4/2008).

"Inflasi dalam beberapa bulan ini hampir menyentuh 1 persen tiap bulannya, sementara bunganya tetap 8 persen, ini jadi problem yang berat," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena tingginya harga barang membuat inflasi tahun ini diperkirakan akan lebih besar dari target pemerintah sebesar 6,5 persen. Farial memperkirakan inflasi akan mencapai 7 persen.

"Kalau kita lihat kecenderungan kesana, soalnya banyak bencana alam, krisis gas, elpiji itu semua pada akhirnya akan mengganggu para pengusaha, mereka bisa meningkatkan harga jual," ujarnya.

Meski ada perbedaan suku bunga yang lebar antara suku bunga di AS dan Indonesia tidak membuat rupiah menjadi seksi di mata investor. Hal ini terlihat dari penjualan saham dan obligasi oleh investor asing.

"Mereka lepas sahamnya, obligasi, mendapat rupiahnya kemudian ditukar dengan dolar," ujarnya.

Harga minyak yang menembus US$ 104,69 juga memberi tekanan pada rupiah. Dengan harga minyak yang makin tinggi, permintaan dolar AS oleh Pertamina juga akan semakin tinggi pula.

Pergerakan rupiah pada pekan depan juga akan dipengaruhi oleh situasi pasar modal. Apakah sudah pulih dari pekan kemarin atau belum.

"Kalau pasar saham kembali jeblok maka rupiahnya akan jeblok juga," ujarnya.
(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads