Hal tersebut disampaikan pengamat valuta asing Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Minggu (6/4/2008).
"Inflasi dalam beberapa bulan ini hampir menyentuh 1 persen tiap bulannya, sementara bunganya tetap 8 persen, ini jadi problem yang berat," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita lihat kecenderungan kesana, soalnya banyak bencana alam, krisis gas, elpiji itu semua pada akhirnya akan mengganggu para pengusaha, mereka bisa meningkatkan harga jual," ujarnya.
Meski ada perbedaan suku bunga yang lebar antara suku bunga di AS dan Indonesia tidak membuat rupiah menjadi seksi di mata investor. Hal ini terlihat dari penjualan saham dan obligasi oleh investor asing.
"Mereka lepas sahamnya, obligasi, mendapat rupiahnya kemudian ditukar dengan dolar," ujarnya.
Harga minyak yang menembus US$ 104,69 juga memberi tekanan pada rupiah. Dengan harga minyak yang makin tinggi, permintaan dolar AS oleh Pertamina juga akan semakin tinggi pula.
Pergerakan rupiah pada pekan depan juga akan dipengaruhi oleh situasi pasar modal. Apakah sudah pulih dari pekan kemarin atau belum.
"Kalau pasar saham kembali jeblok maka rupiahnya akan jeblok juga," ujarnya.
(ddn/ddn)











































