BTN pun langsung menetapkan target Rp 1,9 triliun pada penawaran saham perdana itu.
Hal tersebut disampaikan Dirut BTN Iqbal Latanro usai rapat dengan Menneg BUMN Sofyan Djalil di kantor Menneg BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (8/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iqbal mengaku tidak bisa menutup mata dengan kondisi pasar yang sedang bearish ini, jika BTN tetap memaksakan untuk masuk ke pasar maka hal itu akan merugikan.
"Tapi IPO memang rencana tahun ini tapi kita juga tidak mau memaksa, lihat kondisi pasar," ujarnya.
Menneg BUMN Sofyan Djalil mengaku belum menerima laporan mengenai kajian IPO dari Bahana ini.
"Saya belum terima," ujarnya
Akan mengikuti kajian itu Pak? "Ya pokoknya yang terbaik untuk BTN," lanjutnya.
Deputi Menneg BUMN bidang Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto mengatakan dengan adanya kajian Bahana ini berarti akusisi oleh bank BUMN yang berminat seperti BRI dan BNI ditunda dulu. "Itu untuk sementara ini tidak," ujarnya.
Iqbal menambahkan jika IPO tidak lancar, maka BTN sudah menyiapkan rencana darurat atau contigency plan untuk mendukung pembiayaannya antara lain dengan sekuritisasi aset kredit yang dimilikinya. "Nah itu juga bisa jadi sumber pembiayaan," ujarnya.
Sekuritisasi aset kredit BTN bekerja sama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) ditargetkan sebesar Rp 500 miliar.
Selain sekuritisasi dan IPO, BTN juga merencanakan untuk menerbitkan obligasi dalam triwulan I-2008 ini. Iqbal membantah adanya pembatalan penerbitan obligasi sekitar Rp 1 triliun itu.
"Kita sudah mengajukan ke Bapepam, tapi kan masih ada waktu 45 hari, ya kita lihat kondisi pasar, kita evaluasi dulu situasi pasar," ujarnya.
Iqbal menargetkan dalam jangka panjang BTN ingin menjadi bank yang terdepan dalam pembiayaan rumah.
"Kita ingin jadi bank yang leading di pembiayaan perumahan. Di 2012 kita targetkan aset sebesar Rp 70 triliun lebih dengan laba Rp 1,9 triliun," ujarnya.
(ddn/ir)











































