Denyut Pelemahan di Lantai Bursa

Denyut Pelemahan di Lantai Bursa

- detikFinance
Kamis, 10 Apr 2008 08:27 WIB
Jakarta - Pelemahan masih mengintai pasar saham. Melorotnya kembali bursa saham Wall Street diprediksi akan ikut menyeret kembali bursa-bursa saham regional, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Rabu (9/4/2008), Wall Street kembali melemah karena sentimen negatif laporan keuangan emiten. Pemicunya adalah proyeksi penurunan laba yang dikeluarkan UPS untuk kuartal I-2008.

Indeks Dow Jones melemah 49,18 poin (0,39%) ke level 12.527,26. Nasdaq juga melemah 26,64 poin (1,13%) ke level 2.322,12, Standard & Poor's 500 melorot 11,05 poin (0,81%) ke level 1.354,49.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bursa-bursa regional pun langsung mengekor pelemahan Wall Street. Indeks Nikkei-225 di Bursa Saham Tokyo pada perdagangan Kamis (10/4/2008) dibuka langsung melemah 82,08 poin (0,63%) ke level 13.029,81.

Pelemahan bursa-bursa acuan itu akan kembali melemahkan IHSG yang pada perdagangan kemarin sudah terpuruk ke level terendahnya dalam 7 bulan terakhir. Investor semakin gamang, dan untuk sementara memilih untuk keluar menunggu situasi pasar finansial mereda.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

eTrading Securities:


Indeks pada perdagangan kemarin, mengalami pelemahan cukup dalam di level 2180 atau melemah 69,6 poin (3%) meski pada awal perdagangan, indeks sempat menguat menyentuh level 2268. pelemahan ini akibat terimbas pelemahan yang terjadi pada mayoritas bursa-bursa Asia.

Hari ini, sentimen negatif akan kembali menerpa bursa kita dari pelemahan Bursa US sebesar 0,39% akibat melambungnya harga minyak dunia yang berimbas pada tingginya beban bahan bakar bagi perusahaan transportasi dan penerbangan. akibat hal ini, beberapa indeks regional juga ikut dibuka melemah, seperti Nikkei, KOSPI dan STI.

Minimnya sentimen positif yang masuk ke Bursa Indonesia, membuat investor masih menahan diri untuk melakukan investasi jangka panjang. Sentimen negatif seperti tingginya inflasi domestik dan peluang kenaikan BI Rate tetap akan menekan saham-saham interest rate sensitive seperti semen, banking dan property. Rentang pergerakan indeks akan mencoba support kuat indeks di 2150-2270.

Optima Securities:

Masih melemahnya bursa regional terus menekan indeks dibawah 2.200 ke posisi 2.180 ditengah relatif stabilnya rupiah. Adanya proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I dari pemerintah sebesar 6.2-6.3% membawa optimisme ditengah pasar yang cenderung bearish. Rencana pemerintah membuat cadangan resiko fiskal Rp 9.3 triliun merupakan manajemen resiko yang bagus guna menghadapi tekanan harga minyak dan BBM bersubsidi.

Indeks diperkirakan bergerak dilevel 2.130-2.250   dengan saham pilihan: UNTR, BUMI, TINS, AALI, dan PTBA.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads