Indofarma Perluas Pasar Ekspor

Indofarma Perluas Pasar Ekspor

- detikFinance
Selasa, 15 Apr 2008 15:16 WIB
Indofarma Perluas Pasar Ekspor
Cibitung - PT Indofarma Tbk (INAF) berencana memperluas pasar ekspornya ke 9 negara. Penandatanganan MoU ke negara-negara tersebut sudah dilakukan beberapa waktu yang lalu.

"MoU sudah ditandatangani. Kita akan perluas pasar ekspor ke 9 negara," ujar Direktur Pemasaran INAF, Muhammad Munawaroh, usai kunjungan pabrik Indofarma, Cibitung, Bekasi, Selasa (15/4/2008).

Pada tahun 2007, pasar ekspor INAF baru ke Afghanistan dan Nigeria dengan nilai sebesar Rp 8 miliar. Pada tahun 2008 ini, INAF berencana menambah pasar ekspornya ke Polandia, Irak, Pakistan, Filipina, Malaysia, Myanmar dan Vietnam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk tahap awal, nilainya memang masih kecil. Mungkin sekitar Rp 10-20 miliar. Secara bertahap akan kita tingkatkan. Tahun kita harapkan bisa meningkat menjadi Rp 20-40 miliar," ulas Muhammad.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan performa perseroan, karena pada tahun 2007 lalu, laba bersih perseroan tergerus oleh kenaikan harga bahan baku, sementara Departemen Kesehatan tidak mengizinkan perseroan menaikkan harga jual.

"Jadi jalan tengahnya adalah memperluas pasar ekspor secara bertahap," ujar Muhammad.

Ia mencontohkan, harga bahan baku obat Amoxycillin pada awal 2007 masih sebesar US$ 32,5 per kilogram. Namun harga saat ini sudah mencapai US$ 52 per kilogram.

"Sedangkan kebutuhan perseroan per tahun sekitar 300-400 ton per tahun. Itupun masih kurang untuk pasar domestik. Perhitungan kita, Indonesia membutuhkan bahan baku Amoxycillin sebanyak 600-700 ton per tahunnya," ulas Muhammad.

Sementara mengenai market size pasar obat domestik, nilainya kira-kira Rp 25 triliun, terdiri dari Rp 10 triliun untuk pasar obat over the counter (OTC), Rp 12,5 triliun untuk Ethical Branded dan sekitar Rp 2,5 triliun untuk pasar obat generik.

"Angka tersebut sangat kecil, apalagi Indonesia berpenduduk 200 juta orang lebih. Market size pasar obat dunia kira-kira Rp 600 triliun," ulas Muhammad. (dro/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads