Gejolak Pasar Saham Belum Usai

Gejolak Pasar Saham Belum Usai

- detikFinance
Senin, 28 Apr 2008 08:11 WIB
Gejolak Pasar Saham Belum Usai
Jakarta - Investor saham harus bermain cerdik menghadapi gejolak pasar yang tak kunjung usai. Booming harga minyak dan komoditas memunculkan dua sisi yang saling bertentangan.

Kenaikan harga minyak dan komoditas akan membuat pendapatan saham-saham di sektor itu mengalami kenaikan pendapatan. Tapi disisi lain, kenaikan harga minyak dan komoditas mengancam inflasi dunia.

Tingginya harga minyak dan komoditas akan membuat biaya produksi semakin tinggi di hampir seluruh kegiatan ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku pasar pun mau tak mau harus super waspada mengikuti arah pasar saham yang kian sulit ditebak. Pada perdagangan saham Senin (28/4/2008) investor saham diprediksi tetap mengandalkan pola trading.

Sementara pada akhir pekan lalu (25/4/2008), bursa saham Wall Street juga masih bergerak terbatas. Indeks Dow Jones naik 42,91 poin (0,33%) ke posisi 12.891,86. Indeks Nasdaq turun 5,99 poin (0,25%) ke posisi 2.422,93 dan S&P 500 naik 9,02 poin (0,65%) ke level 1.397,84.

Kecemasan investor di Wall Street masih seputar tingginya harga minyak dan laporan keuangan emiten yang belum semuanya membaik.

Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat lalu (25/4/2008) turun 29,402 poin (1,3%) ke posisi 2.240,578.

Saham-saham energi tetap menjadi fokus pelaku pasar. Pasar juga mengantisipasi pengumuman inflasi April oleh BPS pada pekan ini.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

eTrading Securities


Indeks pada penutupan akhir pekan kemarin masih tidak mampu keluar dari teritori negatif dan ditutup terkoreksi 29,4 poin ke level 2240,5. Para pelaku pasar masih menunggu kepastian sentimen dari pengumuman inflasi bulan April dan penetapan BI Rate pada awal Mei mendatang. Tingginya harga minyak global yang pada awal minggu ini kembali berada di level US$118,5/barrel dan harga komoditas pangan yang terus naik kembali membawa kekhawatiran akan tingginya inflasi di bulan-bulan mendatang. Untuk menekan dampak inflasi ini, BI Rate diperkirakan akan naik pada awal Mei mendatang.

Sementara, akhir pekan lalu bursa Amerika kembali berada di teritori positif dengan menguat sekitar 0,3% terkait keyakinan pelaku pasar atas hasil kinerja emitennya pada kuartal pertama. Sementara beberapa bursa Asia juga dibuka menguat pekan ini. Bursa Indonesia diperkirakan masih akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah, karena investor masih menunggu kepastian mengenai inflasi dan BI Rate. Sektor Energi dan Mining masih akan mendominasi perdagangan hari ini. Rentang pergerakan indeks akan berada di kisaran 2220 - 2260.

Β  (ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads