"Kita akan launch sekitar 3 proyek integrated area (kawasan terpadu) lagi tahun ini. Sekitar awal semester dua," ungkap Direktur LPKR, Jopy Rusli, disela acara pembukaan pameran lukisan Sasya Tranggono di Kemang Village, Jl P Antasari, Jakarta, Minggu Malam (27/4/2008).
Sayangnya, ia belum bisa mengungkapkan berapa luas lahan dan nilai investasi per proyeknya.
"Kalau lokasinya, semua di Jakarta Selatan, karena segmen market kita itu menengah ke atas, dan Jakarta Selatan cukup diminati oleh masyarakat di kelas menengah atas," ulas Jopy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"3 kawasan terpadu ini tidak sebesar proyek superblok kita yang sedang on going. Sedikit lebih kecil. Disana juga ada hotel, mal dan sebagainya," ujar Jopy.
Selain 3 proyek kawasan terpadu tersebut, LPKR juga sedang menjajaki pembangunan superblok di luar Jabodetabek.
"Kita sedang jajaki lokasi-lokasi diluar Jabodetabek untuk membangun beberapa superblok lagi. Tentunya akan dibangun di kota-kota yang memang cukup besar dan masyarakatnya sudah mencapai taraf ekonomi tertentu," ujar Jopy.
Ia sekali lagi belum bisa mengungkapkan nilai investasinya. Namun ia memastikan semua proyek-proyek tersebut akan menggunakan kas internal perusahaan.
Sebagai perbandingan, dua proyek superblok LPKR yang sedang berjalan, nilainya ditaksir mencapai Rp 20 triliun lebih.
Kemang Village, superblok di Jakarta Selatan memiliki nilai investasi sebesar US$ 1 miliar. St Moritz, superblok di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat, nilainya mencapai US$ 1,2 miliar.
Proyek yang disebut terakhir, rencananya akan termasuk pembangunan menara Lippo yang akan menjadi menara tertinggi di Jakarta, mengalahkan menara Pena milik BNI yang saat ini masih menduduki peringkat paling atas. (dro/ir)











































