"Perkiraan defisit pasokan timah tahun 2008 ini semakin mendorong harga timah naik terus. April ini sempat mencapai US$ 24 ribu per metrik ton," ulas Corporate Secretary PT Timah Tbk (TINS), Abrun Abubakar saat dihubungi detikFinance, Selasa (29/4/2008).
Pada tahun 2007, produksi timah dunia sebesar 347.300 metrik ton, sedangkan konsumsinya sebesar 364.600 metrik ton. Jadi ada kekurangan pasokan sebanyak 17.300 metrik ton atau defisit 4,75%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan perkiraan tersebut, artinya angka defisit pasokan timah dunia di 2008 akan mengalami penurunan ke 3,81% dari sebelumnya 4,75%.
"Melihat data tersebut, seharusnya harga timah dunia tidak akan naik terus karena diperkirakan akan ada penambahan pasokan di 2008 walaupun masih mengalami defisit," ulas Abrun.
Adanya defisit pasokan semakin mendorong konsumen melakukan aksi memasok timah untuk kepastian bahan baku produksi.
"Hal itu sangat terlihat dari posisi stok timah di LME (London Metal Exchange). Pada awal 2008, stok disana masih sebanyak 10 ribu metrik ton. Hingga akhir Maret posisi stoknya telah turun ke 8 ribu, bahkan April ini sudah di 7 ribu metrik ton," ungkap Abrun.
Akibat penurunan stok di LME, sentimen memasok timah untuk kepastian bahan baku semakin tinggi, sehingga mendorong harga timah dunia naik terus.
"Dari perkiraan stok LME awal tahun sebanyak 10 ribu metrik ton ke posisi April sebesar 7 ribu metrik ton, artinya telah terjadi penurunan pasokan sebesar 30%. Dampaknya harga timah naik terus, bahkan April ini tembus di kisaran US$ 24 ribu per metrik ton," ujar Abrun.
Pada akhir tahun 2007 lalu, harga rata-rata timah dunia ditutup sebesar US$ 14.529 per metrik ton. Jika harga per April 2008 telah menjadi US$ 24 ribu per metrik tonnya, artinya telah terjadi kenaikan sebesar 65,2%.
Jadi, perkiraan defisit pasokan tahun 2008 sebesar 3,81%, ditambah penurunan stok timah di LME sebanyak 30% telah mendorong harga timah naik hingga 65,2%.
"Harga timah bisa naik terus. Kita belum bisa memperkirakan posisi harga timah ke depannya. Jika stok LME tidak ditambah, maka harga akan terus naik," papar Abrun.
Apalagi, ia menambahkan, beberapa asumsi memperkirakan stok di LME pada triwulan dua 2008 ini akan ditutup turun hingga menjadi 5 ribu metrik ton, atau anjlok 50% dibanding posisi stok di awal tahun 2008 yang masih sebesar 10 ribu ton.
Dari posisi saat ini saja, akibat penurunan stok LME sebesar 30%, harga timah telah melonjak 65,2%. Apalagi jika stok LME ditutup turun 50% pada triwulan dua ini, lonjakan harga timah bisa naik lebih tinggi lagi.
"Kita belum dapat memperkirakan kondisi stok LME ke depan. Namun dengan posisi harga timah dunia saat ini yang sebesar US$ 24 ribu, kita memperkirakan harga timah yang diterima perseroan di triwulan dua nanti akan ada di kisaran US$ 19-20 ribu per metrik tonnya," ulas Abrun. (dro/qom)











































