"Tahun ini kita tidak terbitkan obligasi. Keadaan pasar modal sedang kurang baik, jadi kita lebih memilih menggunakan pinjaman bank," ujar Presiden Direktur Jasa Marga, Frans S Sunito, usai RUPS Tahunan di Hotel Gran Melia, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa (29/4/2008).
Sebelumnya, dana perolehan penerbitan obligasi akan digunakan untuk mendanai sebagian anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan di tahun 2008. Dan, penerbitan obligasi selalu diterbitkan secara rutin setiap tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 2008 ini, Jasa Marga menganggarkan capex sebesar Rp 3,658 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk pendanaan rutin Rp 473 miliar, penyelesaian proyek JORR Rp 986,2 miliar, proyek jalan tol baru senilai Rp 1,125 triliun dan perluasan usaha seperti akuisisi JORR W1 sebesar Rp 920,7 miliar.
"Komposisi pendanaan sekitar 30% dari kas internal, sisanya 70% dari pinjaman bank," ujar Frans.
Dengan asumsi tersebut, maka kas internal yang harus dikeluarkan perseroan sebesar Rp 1,097 triliun, sedangkan pinjaman yang harus dicairkan mencapai Rp 2,56 triliun.
"Untuk kas internal, akan kita gunakan dari sisa dana IPO tahun 2007 lalu," ujar Frans.
Pada tahun 2007 lalu, JSMR memperoleh suntikan dana IPO sebesar Rp 3,4 triliun. Dana tersebut telah digunakan untuk membangun jalan tol Bogor Ring Road Rp 255,9 miliar, jalan tol Gempol-Pasuruan Rp 441,9 miliar dan jalan tol Semarang-Solo Rp 1,229 triliun.
"Serta sebesar Rp 150 miliar untuk pelunasan obligasi JSMR VIII seri M yang telah jatuh tempo Maret 2008 lalu," ujar Frans.
Dengan demikian sisa dana IPO Jasa Marga masih ada sebesar Rp 1,321 triliun. Sisa dana ini rencananya akan digunakan untuk pendanaan capex yang menggunakan kas internal sebesar Rp 1,097 triliun.
"Pendanaan capex yang dari pinjaman bank akan sekitar Rp 2,56 triliun. Akan kita cairkan secara bertahap, sesuai kebutuhan proyek," ujar Frans.
(dro/ddn)











































