Penjualan bersih ANTM triwulan I 2008 sebesar Rp 2,091 triliun, anjlok 12,32% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,385 triliun.
Penurunan tersebut, terutama disebabkan oleh keterlambatan penerimaan pasokan feronikel ke Eropa, yang hingga saat ini masih dalam perjalanan. Namun Antam menegaskan, tak ada keterlambatan dalam pengiriman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total pengiriman feronikel ANTM triwulan I sebenarnya mencapai 5.975 ton, namun yang masuk ke penerimaan baru sebesar 1,267 ton, yaitu 1.159 ton ke Korea dan 108 ton ke Jepang. Sisanya sebanyak 4.708 ton masih dalam perjalanan ke Eropa.
Akibatnya, perolehan penjualan ANTM dari feronikel triwulan I ini anjlok 69% menjadi Rp 325 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,063 triliun. Volumenya juga turun sebesar 62% menjadi 1.267 ton dibanding tahun sebelumnya 3.345 ton.
Posisi tersebut setara dengan 7% dari target volume penjualan di tahun 2008 ini yang sebesar 17.000 ton.
"Tapi kita tetap optimis target dapat tercapai karena ini bukan masalah fundamental, melainkan masalah keterlambatan kiriman saja," ulas Bimo.
Penurunan juga dikontribusikan oleh anjloknya harga rata-rata feronikel yang diterima perseroan menjadi US$ 12,69 per pound. Padahal akhir tahun 2007 lalu, harga rata-ratanya masih ditutup sekitar US$ 16,9 per pound.
Di sisi lain, kinerja penjualan bijih nikel masih meningkat 6,4% menjadi Rp 1,173 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,1 triliun.
Angka tersebut diperoleh dari volume penjualan sebesar 2 juta weight metrik ton (wmt) diharga US$ 63,26 per wmt. Posisi harga bijih nikel tersebut masih naik 0,79% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 62,76 per wmt.
Sementara perolehan laba kotor perseroan juga terkoreksi 31,3% menjadi Rp 1,03 triliun dibanding sebelumnya Rp 1,5 triliun.
Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan beberapa beban dan rugi kurs. Beban Pokok Penjualan (BPP) mengalami peningkatan sebesar 19,9% menjadi Rp 1,06 triliun dibanding sebelumnya Rp 884,4 miliar.
"Peningkatan BPP disebabkan oleh peningkatan biaya energi 60%, material cost 185%, Ore mining fees 84% Deperciation 37% dan Labour Cost 18%," papar Bimo.
Faktor rugi kurs juga sedikit mempengaruhi perolehan laba bersih triwulan I ini. Pada triwulan I 2007 lalu, perseroan masih memperoleh keuntungan selisih kurs sebesar Rp 17,2 miliar. Namun tahun ini perseroan membukukan selisih kurs minus alias merugi Rp 108,07 miliar.
Beberapa faktor tersebut telah menyebabkan penurunan perolehan laba bersih perseroan pada triwulan I 2008 ini. Koreksinya sebesar 37% ke posisi Rp 675,39 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,073 triliun.
(dro/qom)











































