"Dengan sistem transaksi nirtunai, bisa meminimalisir potensi-potensi kebocoran transaksi baik dari yang kecil sampai yang besar, karena dengan sistem nirtunai, semua asal dan tujuan transaksi dapat terlacak," ujar Ketua Kompartemen Riset dan Pengembangan Perbanas, Jos Luhukay, dalam jumpa pers di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (6/5/2008).
Menurut Luhukay, sistem transaksi tunai memiliki masalah-masalah seperti maraknya peredaran uang palsu, adanya potensi kejahatan perampokan dan lain sebagainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Ketua Perbanas Sigit Pramono menyatakan bahwa sosialisasi sistem transaksi nirtunai memang tidak mudah, karena membutuhkan kesadaran dari para pengguna uang yaitu masyarakat itu sendiri.
"Kita lebih realistis memandang hal ini. Jadi kita akan memulai dengan tahap pengenalan dulu. Kalau untuk sampai ke mayoritas masyarakat mungkin masih lebih dari 5 tahun ke depan," ujar Sigit.
Oleh karena itu, Perbanas berencana mengadakan acara bertema "Cashless Society System" dalam APCONEX di JCC mulai tanggal 7 hingga 9 Mei 2008 mendatang.
"Tujuan acara ini untuk mulai mensosialisasikan sistem transaksi nirtunai," ujar Luhukay.
Sayangnya ia belum bisa memperkirakan biaya investasi yang diperlukan untuk mengembangkan sistem transaksi ini, termasuk dana untuk mempersiapkan infrastruktur sistem tersebut.
"Investasinya belum bisa kita perkirakan, tapi kalau dari sisi perbankan saya kira mereka siap kok. Kuncinya justru di para merchant. Di tangan mereka inilah pengenalan sistem transaksi nirtunai bisa tersosialisasikan di masyarakat," ulas Luhukay.
(dro/ddn)











































