Pasar Saham Masih Sensitif

Pasar Saham Masih Sensitif

- detikFinance
Rabu, 07 Mei 2008 07:57 WIB
Pasar Saham Masih Sensitif
Jakarta - Saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga diprediksi masih akan melemah. Investor akan waspada terhadap saham-saham sektor perbankan, otomotif dan properti.

Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham Rabu (7/5/2008) belum bisa lepas dari tekanan.

Pasar bakal makin sensitif karena harga minyak dunia yang tembus US$ 121 per barel. Meski disisi lain emiten energi dan tambang akan terlihat makin cantik karena naiknya harga minyak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga minyak juga telah membuat investor di Wall Street berhati-hati dalam pembelian saham dalam jumlah besar. Terlihat pada penutupan perdagangan Selasa waktu AS (6/5/2008), Indeks Dow Jones naik terbatas 51,29 poin (0,4%) ke posisi 13.020,83. Indeks Nasdaq naik 19,19 poin (0,78%) ke level 2.483,31 dan S&P 500 naik 10,77 poin (0,77%) menjadi 1.418,26.

Sementara IHSG pada penutupan perdagangan saham, Selasa kemarin (6/5/2008) turun 16,159 poin (0,68%) ke posisi 2.371,827.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

Panin Sekuritas

Kemarin, IHSG ditutup melemah. Pasar bereaksi negatif pada sesi 2 perdagangan setelah BI mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps. Kenaikan tersebut diluar ekspektasi pasar yang memperkirakan BI Rate masih akan dipertahankan paling tidak hingga kenaikan harga BBM.

Secara umum, sektor perbankan memberikan kontribusi penurunan paling dalam terhadap IHSG kemarin. Kami perkirakan situasi ini masih akan berlanjut pada hari ini. Saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan bunga akan melemah, seperti perbankan, otomotif, dan properti.

Disisi lain, kenaikan harga minyak dan komoditas lain akan memberi sentimen positif bagi saham pertambangan dan perkebunan. Dari sisi teknikal, saat ini IHSG memang masih berada dalam area overbought. Indikator Stochastic berada di 89.56, dan penutupan masih berada di atas upper band dari Bollinger band. Kisaran support-resistance 2.343-2.399.

eTrading Securities


Bursa Indonesia pada perdagangan kemarin akhirnya terkoreksi 16,1 poin (0,6%) ke level 2371,8 setelah selama 5 hari berturut-turut mengalami rally. Koreksi yang terjadi terkait dengan keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 bps ke level 8,25%. Hal ini dilakukan BI untuk mengantisipasi laju inflasi dalam negeri yang mencapai 8,96% YoY.

Sementara bursa Amerika berhasil menguat meski harga minyak dunia terus mencetak rekor baru di level US$121,8/barrel. Penguatan bursa Amerika lebih karena keyakinan pasar akan masih kuatnya fundamental perekonomian yang kembali membaik dan performa emiten pada Q1 yang masih menunjukkan peningkatan. Sementara itu, beberapa bursa regional juga dibuka meguat pagi ini.

Perdagangan pada Bursa Indonesia diperkirakan masih akan memfaktorkan sentimen negatif dari kenaikan BI Rate kemarin. Dampaknya akan jelas terlihat pada sektor Banking, Finance dan Automotive. Isu kenaikan BBM subsidi juga masih akan menekan indeks ke area negatif. Gap indeks di level 2343 diperkirakan akan tertutup hari ini, dengan beberapa saham yang akan terkoreksi antara lain BBRI, BMRI, TLKM dan ASII. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2389 - 2340.
(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads