Cadangan Devisa Masih Aman untuk Jaga Rupiah

Cadangan Devisa Masih Aman untuk Jaga Rupiah

- detikFinance
Jumat, 09 Mei 2008 15:51 WIB
Cadangan Devisa Masih Aman untuk Jaga Rupiah
Jakarta - Cadangan devisa Indonesia yang turun tipis menjadi  US$ 58,7 miliar dinilai masih mencukupi untuk menahan rupiah tetap stabil.

Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A Sarwono usai menghadiri acara Kuliah Umum dengan Bill Gates, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (9/5/2008).

"Masih mencukupi untuk membuat rupiah stabil," ujarnya singkat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Indonesia menurut Hartadi tetap memantau situasi pasar terkait tingginya harga minyak yang akan berdampak pada naiknya inflasi dalam negeri.

"Oleh karena itu kita akan memonitor secara bertahap untuk beberapa informasi sebelum merumuskan BI Rate, terutama BI Rate dan nilai tukar. Ini 2 instrumen penting yang dilakukan oleh BI," ujarnya.

BI akan melakukan penyesuaian secara fleksibel untuk mengantisipasi tingginya inflasi, kemudian mempertahankan nilai tukar pada tren menguat sehingga bisa mengurangi dampak negatif dari imported inflation atau inflasi karena kenaikan komoditas di luar negeri.

"Namun sekali lagi perlu ditekankan bahwa dengan faktor inflasi seperti sekarang itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan exchange rate ataupun interest rate harus ada policy kebijakan lain khususnya di bidang sektoral untuk kecukupan pasokan barang khususnya pangan dan juga efisiensi distribusi," paparnya.

Karena akhirnya nanti percuma saja kalau ada pasokan tanpa distribusi yang baik. Hal itu akan menyebabkan kenaikan harga.

"Jadi tidak bisa diperangi oleh BI Rate dan exchange rate sehingga perlunya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI. Jadi integrated policy menjadi penting," ujarnya.

Hartadi menambahkan dengan rencana kenaikan harga BBM maksimal 30 persen maka akan sulit menekan inflasi di bawah 9 persen.

"Sebenarnya meskipun tidak kenaikan harga BBM pun, memang sulit mencapai inflasi di bawah 9 persen, dengan keadaan ekonomi seperti sekarang ini, sulit untuk mencapai target 6,5 persen di APBNP," ujarnya.

Sementara untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menggunakan sistem nilai tukar fleksibel BI akan menyesuaikan dengan permintaan dan penawaran rupiah di pasar.

"Namun kita harus tahu bahwa demand valuta asing itu selalu meningkat dari waktu ke waktu khususnya untuk mengimpor minyak dan pangan oleh karena itu BI akan melihat apabila terjadi shock kekurangan suplai maka kita akan masuk ke pasar sehingga bisa meredam fluktuasi dari nilai tukar. Sebetulnya saya sangat happy dengan perkembangan nilai tukar saat ini yang masih cukup baik," ujarnya. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads