"Konstruksi dilakukan tahun 2008 dan ditargetkan dapat berproduksi secara komersial pada 2010," kata Deputy President Director BUDI, Sudarmo Tasmin, usai paparan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Senin (12/5/2008).
Mengenai sumber pendanan investasi pembangunan pabrik tersebut akan diperoleh pinjaman bank lokal senilai US$ 28 juta atau sekitar 65% dan sisanya 35% dari kas internal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, perseroan juga segera membangun proyek 8 Pembangkit Lisitrik Tenaga Biogas (PLTBG) berkapasitas 25 mega watt (MW) di Way Abung, Lampung. Investasi proyek ini diperkirakan senilai US$ 32,5 juta.
"Setiap 1 MW membutuhkan dana sekitar USD1,24-1,3 juta," ujar Sudarmo.
Saat ini perseroan telah mengoperasikan satu proyek PLTBG dengan kapasitas 6 MW, dan sisanya tujuh proyek ditargetkan dapat beroperasi pada 2009.
Dana investasi proyek PLTBG akan diperoleh dari sisa penawaran umum saham terbatas (rights issue), kas internal dan kerjasama asing. Saat ini perseroan telah mendapat komitmen dari Summitomo Bank US$ 10 juta, NEDO US$ 3,5 juta dan Cargill US$ 10,5 juta.
Menurut Sudarmo, jika proyek tersebut sudah beroperasi maka perseroan ditargetkan dapat melakukan efisiensi sebesar US$ 15-16 juta pada 2009. Efisiensi tersebut dikontribusikan dari penjualan kredit karbon US$ 7,2 juta dan sisanya dari penghematan listrik.
"Sesuai dengan Kyoto Protocol 1997 kita berhak menjual kredit karbon karena sudah mendapat Certified Emission Reduction (CER) yang dikeluarkan badan PBB," kata Sudarmo.
Pada 2008 perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/Capex) US$ 40-50 juta yang sumber pendanaannya diperoleh dari sisa rights issue dan pinjaman eksternal.
Pada tahun ini perseroan juga menargetkan laba bersih Rp 92 miliar.
Adapun pada triwulan I 2008 perseroan membukukan laba bersih Rp 36,5 miliar atau melonjak 609% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,2 miliar. Peningkatan laba bersih disumbangkan kenaikan penjualan dan margin laba kotor. Perseroan juga berhasil menekan beban keuangan menjadi Rp 11,2 miliar atau turun dari periode sebelumnya Rp 14,9 miliar.
Selain itu, pertumbuhan juga disumbangkan laba selisih kurs yang belum terealisasi Rp 7,3 miliar dibanding rugi selisih kurs yang belum direalisasi Rp 14,9 miliar.
(dro/ir)











































