"Kami berencana mengurangi volume penjualan ekspor sebesar 22,3%, dari sebelumnya 0,8 juta ton menjadi 0,6 juta ton di tahun 2008 ini," ujar Presiden Direktur INTP, Daniel Lavalle, usai RUPST di Wisma Indocement, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (14/5/2008).
Menurutnya dengan lebih menitikberatkan kepada pasar domestik, keuntungan perusahaan akan jauh lebih besar, sedangkan ekspor membutuhkan biaya lebih tinggi, terutama untuk biaya perkapalan. Oleh karena itu, perusahaan menitikberatkan penjualan kepada pasar domestik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada triwulan I-2008, pertumbuhan penjualan semen nasional tumbuh 16,8%. Namun perseroan berhasil menumbuhkan penjualan domestiknya sebesar 25,3% menjadi 2,9 juta ton. Angka pertumbuhan tersebut meningkatkan pangsa pasar perseroan.
"Melihat perkembangan tersebut kami yakin pertumbuhan kami bisa meningkat diatas 9 % tahun ini, terutama dengan mengurangi porsi ekspor dan meningkatkan porsi pasar domestik," ujar Daniel.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan BBM dan tingginya inflasi tentu akan mempengaruhi penjualan, namun melihat kebutuhan pasar tinggi, INTP yakin bisa mencapai target.
"Hasil perolehan triwulan I baru berasal dari private demand, belum proyek infrastruktur pemerintah. Jadi kami masih optimis, " beber Daniel.
Oleh karena itulah INTP berupaya menambah kapasitas produksi yang mereka miliki. Saat ini INTP memiliki kapasitas produksi 17 juta ton, diharapkan dalam tiga tahun mendatang bisa menjadi 21 hingga 22 juta ton.
INTP berencana membangun 2 hingga 3 cement mills dan membentuk pabrik modifikasi di pabrik ke-7 dan ke-11 di Citeureup, pabrik ke-9 dan ke-10 di Cirebon, dan pabrik ke-12 di Tarjun.
" Untuk penambahan tersebut membutuhkan waktu penyelesaian 9 hingga 12 bulan, dengan biaya US$ 40 hingga 50 per ton,"Β ujar Direktur Keuangan INTP, Christian Kartawijaya.
(dro/ddn)











































