Sedangkan produk di luar itu seperti makanan, perusahaan makanan ringan dan barang konsumsi ini tidak akan melakukan penyesuaian harga produknya secara menyeluruh menyusul rencana pemerintah menaikkan BBM.
Hal tersebut disampaikan Dirut Unilever Maurits Daniel Lalisang usai RUPST di Hotel Shangri-la, Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (22/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan BBM sekitar 30 persen tentunya akan meningkatkan biaya operasi sekitar 0,3 persen dan dampaknya juga akan terasa kepada biaya transportasi.
"Namun dengan performance kita di triwulan I-2008 kita masih yakin karena kita menghadapi keadaan seperti ini memang sudah biasa," ujarnya.
Kenaikan harga BBM juga akan menekan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.
"Pertumbuhan kita selama 15 tahun growth selalu double digit mungkin dengan keadaan sekarang tetap double digit tapi low doubel digit," ujarnya.
Pertumbuhan pendapatan Unilever pada tahun 2007 tumbuh 10,66 persen, dari Rp 11,335 triliun di 2006 menjadi Rp 12,544 triliun pada tahun 2007.
Sedangkan laba bersih tumbuh 14,1 persen dari Rp 1,721 triliun menjadi Rp 1,964 triliun di tahun 2007.
"Untuk tahun ini kita tidak bisa memberikan forecast karena produk kita itu banyak jadi agak sulit untuk memberikan forecast," jelasnya.
Supply Chain Director Unilever Mohammad Effendi menambahkan tahun 2007 rata-rata produksi Unilever sebesar 700.000 ton, tahun ini akan meningkat menjadi 770.000 ton.
Capex atau belanja modal tahun ini dipatok pada Rp 670 miliar. Sebesar 80 persen dana capex digunakan untuk peningkatan kapasitas dan sisanya untuk pembangunan sarana IT dan sebagainya.
(ddn/ir)











































