Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur Adaro, Boy Garibaldi Thohir, usai jumpa pers di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Senin (26/5/2008).
"Untuk mencapai target 80 juta ton di 2012, kami menyiapkan beberapa langkah. Pertama meningkatkan penyertaan saham di anak-anak usaha. Kedua membangun conveyor dan power plant. Ketiga mengoperasikan tambang Wara dan Paringin," ujar
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tujuannya agar kami dapat mensinergikan kinerja anak-anak usaha agar target 80 juta ton di 2012 dapat tercapai," jelas Boy.
Langkah kedua yang disiapkan Adaro adalah membangun conveyor sepanjang 68 kilometer dan power plant dengan kapasitas 2x30 megawatt. Dana yang disiapkan untuk keperluan ini sebesar US$ 500 juta.
"Sekitar 25% dari kas internal, 75% dari sindikasi pinjaman bank lokal dan asing," ulas Vice Presiden Adaro, Christian Aryo Rahmat.
Conveyor yang akan dibangun menghubungkan lokasi tambang Tutupan (Kalimantan Selatan) dengan pelabuhan di sungai Kelanis (Kalimantan Tengah). Kemudian dari pelabuhan Kelanis akan dibawa melalui sungai Barito menuju ke laut Jawa. Dari situ akan dibawa ke wilayah distribusi.
"Kapasitas angkut conveyor sekitar 40 juta ton. Konstruksi mulai dibangun 2009, dan diharapkan selesai pada 2010 dan 2011," ujar Corporate Secretary Adaro, Andre Mamuaya.
Langkah ketiga yang disiapkan perseroan adalah mengoperasikan tambang Wara yang ditargetkan pada 2009 mendatang dan mengoperasikan kembali tambang Paringin yang sempat ditutup.
"Cadangan tambang Wara sekitar 329 juta ton. Pada tahun 2009 ditargetkan dapat memproduksi sekitar 2,5-5 juta ton. Sementara tambang Paringin rencananya akan kembali dieksplorasi," ujar Andre.
Andre menjelaskan, tambang Paringin dulunya merupakan tambang utama Adaro yang telah beroperasi sejak 1991 hingga 2003. Tambang ini ditutup karena cadangannya habis.
"Namun resources di tambang Paringin masih ada sekitar 264 juta ton. Jadi masih bisa kami lakukan penggalian untuk mengambil cadangan dari Paringin," papar Andre.
Mengenai pendanaan pengoperasian dua tambang tersebut, sudah termasuk dalam anggaran US$ 500 juta di atas.
"Jadi dana untuk tingkatkan kapasitas, sudah termasuk dalam anggaran US$ 500 juta yang juga untuk membangun conveyor dan power plant," jelas Andre.
Melalui berbagai langkah tersebut, perseroan optimis mampu meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 80 juta ton per tahun pada 2012.
(dro/qom)











































