Dananya akan digunakan untuk pengembangan proyek CTRA dan dua anak perusahaannya, PT Ciputra Property Tbk (CTRP) dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRS).
"Kalau total capex bisa lebih dari Rp 1 Triliun. Dana berasal dari kas internal, loan bank, hasil IPO, serta hasil right issue 2006," jelas Direktur CTRA, Tulus Santoso, usai RUPST di Gedung BEI, Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Senin (26/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengatasi masalah material, perseroan telah melakukan value engineering, dengan membeli material awal. Dan melalui anak perusahaannya, CTRA telah melakukan pembelian material sebanyak 5.000 ton, dari total kebutuhan 7.500 ton. Biayanya sekitar Rp 60 miliar.
"Harga material kemungkinan naik lebih dari 5%, tapi dengan membeli value engineering, efektif kenaikan bagi kita hanya 5%," papar Direktur CTRS, Nanik J. Santoso.
Sejak awal tahun 2008, sejumlah material telah mengalami kenaikan. Untuk konstruksi, meningkat 7hingga 10% dan semenemen meningkat 10%.
Sementara untuk kredit KPR, CTRA mengalihkan kerjasama dari Bank Mandiri ke Bank BCA. Pada tahun 2007 lalu, Bank Mandiri memberi kredit Perumahan Rakyat (KPR) 7,77%, tahun ini bunga KPR Mandiri meningkat menjadi 11%.
"Kami sudah menandatangani kerjasama dengan Bank BCA. Mereka memberikan bunga yang relatif rendah, sebesar 9,9% untuk 3 tahun," ulas Nanik.
Selain BCA, perseroan juga bekerjasama dengan Bank BRI, yang memberikan bunga 8,5% untuk KPR dua tahun.
Sehubungan dengan itu, CTRS menganggarkan Capex Rp 300 miliar untuk pembangunan Ciputra World Surabaya. Dua pertiga biaya berasal dari Bank Mega, sementara sisanya dari ekuitas serta uang muka.
Anak usaha CTRA yang lain, CTRP menganggarkan dana Rp 500 miliar, untuk pembangunan konstruksi Ciputra worls Jakarta.
"Seluruh dana berasal dari kas internal," ujar Direktur CTRP, Artadinata Djangkar.
Sementara untuk maintenance, CTRP menganggarkan dana 2-4% dari pendapatan 2007, sebesar Rp 294 miliar.
Mengenai hasil RUPS, baik CTRA, CTRP maupun CTRS memutuskan untuk tidak membagi dividen. Tiga perusahaan tersebut memutuskan mengalokasikan laba bersih sebagai laba ditahan, dengan tujuan untuk pengembangan usaha.
Pada tahun 2007 lalu, laba bersih CTRA meningkat 78%, dari Rp 94 miliar menjadiΒ Rp 168 miliar. Sementara laba bersih CTRS meningkat 2%, dari Rp 169 miliar, menjadi Rp 172 miliar. Sedangkan CTRP mengalami peningkatan laba bersih 112 %, dari Rp 43 miliar menjadi Rp 91 miliar.
Selama triwulan I-2008, CTRA membukukan pendapatan Rp 281 miliar, dengan laba bersih Rp 37 miliar. CTRS membukukan pendapatan Rp 136 miliar, dengan laba bersih Rp 31 miliar, sedangkan CTRP membukukan pendapatan Rp 77 miliar dengan laba bersih Rp 31 miliar.
(dro/ddn)











































